Meskipun tak jelas apakah ADS digunakan dalam operasi penculikan Maduro, namun pada kesaksian yang diunggah oleh Leavitt menunjukkan bahwa militer AS menggunakan senjata yang menembakkan sesuatu “seperti gelombang suara yang sangat kuat”.
“Tiba-tiba saya merasa kepala saya meledak dari dalam,” kata saksi yang belum dikonfirmasi tersebut. “Kami semua mulai mimisan. Beberapa muntah darah. Kami jatuh ke tanah, tidak dapat bergerak.”
Sementara itu, dalam serangan 3 Januari lalu, militer AS melakukan serangkaian serangan cepat ke sejumlah titik, termasuk tempat Maduro berada. Serangan itu disebut bermula dari penyerangan fasilitas radar, komunikasi, dan infrastruktur pertahanan udara di sejumlah titik di Venezuela.
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
Setelah serangan ke fasilitas militer berhasil dilakukan, pesawat dan helikopter mulai masuk ke wilayah Venezuela. Menurut Jenderal Angkatan Udara AS, Dan Caine, lebih dari 150 pesawat terlibat dalam operasi ini.
Serangan itu juga melibatkan pengerahan drone serang satu arah. Penggunaan drone telah terkonfirmasi dalam serangan ke Kota Higuerote di pesisir, tempat sistem pertahanan udara Venezuela berada.
Sesaat setelahnya, pasukan AS mendarat dan menyerbu kompleks militer Benteng Tiuna, tempat Maduro berada. Penyerbuan benteng tersebut melibatkan helikopter yang diduga merupakan Direct Action Penetrator MH-60 Black Hawk. Helikopter ini menembakkan meriam otomatis 30 milimeter.
Akan tetapi, detail mengenai apa yang terjadi di dalam Benteng Tiuna masih belum terungkap sepenuhnya.
