KORPS Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) akhirnya buka suara terkait dalang di balik gelombang kerusuhan hebat yang mengguncang negeri tersebut. Tidak tanggung-tanggung, IRGC menuding sedikitnya 10 badan intelijen asing menjadi otak penggerak di balik kekacauan yang sempat melumpuhkan stabilitas nasional Iran.
Dalam pernyataan resminya melalui Sepah News, Jumat (23/1/2026), IRGC secara eksplisit menyebut rangkaian insiden ini sebagai bagian dari ‘skenario busuk’ Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Rencana besar ini disebut-sebut bertujuan untuk mengancam integritas teritorial serta memecah belah kedaulatan nasional Iran, namun diklaim berakhir dengan kegagalan total.
Ruang Komando Tersembunyi
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
Berdasarkan temuan intelijen mereka, IRGC mengungkapkan adanya ‘ruang komando’ asing yang didirikan tak lama setelah konflik 12 hari pada Juni lalu. Markas rahasia ini diduga berfungsi untuk menyusun strategi kekacauan internal, memprovokasi intervensi militer pihak luar, hingga memobilisasi kelompok-kelompok radikal di dalam negeri.
“Kami telah menggagalkan rencana-rencana sistematis tersebut sejak Juni hingga akhir Desember,” tulis pernyataan resmi tersebut.
Sebagai bukti keseriusan penanganan, otoritas keamanan Iran melaporkan telah menahan 735 orang yang terafiliasi dengan ‘jaringan antikeamanan’. Selain itu, militer juga menyita 743 senjata ilegal yang sedianya akan digunakan untuk memperkeruh suasana.
Tidak hanya langkah represif, IRGC juga mengklaim telah melakukan program pembinaan terhadap 11.000 ‘individu rentan’ agar tidak terjerumus dalam agitasi kelompok perusuh yang didanai asing.
Tudingan ‘Kudeta Semu’
Nada keras juga datang dari parlemen. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melabeli kerusuhan ini sebagai sebuah ‘kudeta semu’. Dalam pembicaraan telepon dengan Ketua Parlemen Turki, Numan Kurtulmus, Ghalibaf menegaskan bahwa AS dan Israel berada di barisan terdepan yang mendukung upaya penggulingan kekuasaan tersebut.
“Ini adalah upaya kudeta yang didukung penuh oleh Washington dan Tel Aviv,” tegas Ghalibaf seperti dikutip dari kantor berita IRNA, Sabtu (24/1/2026).
Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Turki yang memilih untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri Iran.
Akar Masalah: Ekonomi yang Dipolitisasi
Baca Juga:Kelompok True Crime Community Tumbuh Organik dan Sporadis Tanpa Tokoh SentralTokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan Berencana
Gelombang protes di Iran sebenarnya bermula dari keresahan warga terhadap kondisi ekonomi yang kian terhimpit pada Desember 2025. Namun, isu perut tersebut dengan cepat bergeser menjadi bola salju politik yang berujung pada kekerasan ekstrem.
