TIM Disaster Victim Identification (DVI) Biddokes Polda Sulsel berhasil mengungkapkan identitas jenazah korban kecelakaan pesawat Indonesia Air Transport (IAT), yakni pesawat ATR 42-500 yakni Esther Aprilita Sianipar, peramugari maskapai. Identitas Esther terungkap melalui pemeriksaan sidik jari pada jempol.
Kepala Bidang Dokkes Polda Sulsel Komisaris Besar Muh Haris mengatakan telah menerima kantong jenazah keempat dari tiga korban oleh Basarnas pada Kamis (23/1) malam. Usai menerima kantong jenazah korban, tim DVI langsung melakukan proses identifikasi.
“Jenazah dengan nomor post mortem 62.B.04, cocok dengan ante mortem nomor AM 002. Teridentifikasi sebagai Esther Aprilita B Sianipar, jenis kelamin perempuan, umur 26 tahun, dengan alamat Perum Bukit Ranca Maya Nomor 1, Bogor, Jawa Barat,” ujarnya saat jumpa pers di Puskdokkes Polda Sulsel, Jumat (23/1).
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
Haris mengungkapkan teridentifikasinya jenazah tersebut berdasarkan sidik jari, data gigi, properti, dan ciri medis.
Kepala Pusat Identifikasi Pusdokkes Mabes Polri Brigadir Jenderal Mashudi mengtakan kondisi jenazah Esther saat diserahkan oleh Basarnas kepada DVI Biddokes Polda Sulsel masih dalam kondisi bagus. Sehingga, pemeriksaan pada sidik jari jempol sebelah kanan bisa terbaca.
“Sehingga kami melakukan pembandingan sidik jari jempol tangan kanan. Ini gambarnya sidik jari yang kami ambil di post mortem dengan antemortem atau pembanding meski effortnya berbeda-beda,” ujarnya.
Dengan adanya titik kesamaan tersebut, kata Mashudi, sehingga tim DVI meyakini jika jenazah keempat adalah Esther Aprilita B Sianipar.
“Kami meyakini secara scientific, bahwa kantong jenazah PM 62.B.04 adalah atas nama Esther Aprilita B Sianipar,” ungkapnya.
Mashudi mengaku sidik jari Esther Aprilita sebenarnya sedikit kabur. Meski demikian, tim DVI dengan ketekunan dan ketelitian sehingga bisa mengungkap identifikasi kantong jenazah keempat yakni Esther Aprilita B Sianipar.
“(Sidik jari) Esther memang sudah ada sedikit kabur. Namun, dengan upaya dan ketelitian kita masih bisa menemukan titik-titik kesamaan dari sidik jari ini,” tutupnya.
Baca Juga:Kelompok True Crime Community Tumbuh Organik dan Sporadis Tanpa Tokoh SentralTokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan Berencana
Dengan demikian, tiga jenazah yang berhasil diidentifikasi tim DVI ternyata kembali dengan metode primer menggunakan sidik jari. Dan dengan demikian dua pramugari dalam manifest sudah teridentifikasi semua. Sebelumnya Florencia Lolita Wibisono paling pertama diidentifikasi, dan sudah diserahkan ke keluarga.
