Ketua DPRD Kota Salatiga: Perencanaan Pembangunan di Kecamatan Sidorejo Harus Buttom-Up

Ketua DPRD Kota Salatiga, Dance Ishak Palit, M.Si. dalam acara Musrenbang Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga. (
Ketua DPRD Kota Salatiga, Dance Ishak Palit, M.Si. dalam acara Musrenbang Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga. (Josua)
0 Komentar

MUSRENBANG, Musyawarah Perencanaan Pembangunan dan agenda tahunan di mana warga saling bertemu mendiskusikan masalah yang mereka hadapi dan memutuskan prioritas pembangunan jangka pendek.

Ketika prioritas telah tersusun, kemudian di usulkan kepada pemerintah di level yang lebih tinggi, dan melalui badan perencanaan (BAPPEDA) usulan masyarakat dikategorisasikan berdasar urusan dan alokasi anggaran.

Forum tahunan yang mempertemukan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan (masyarakat, tokoh desa) untuk membahas, menyepakati, dan merumuskan prioritas program pembangunan daerah, mulai dari tingkat desa hingga nasional, yang didasarkan pada aspirasi publik dan kebutuhan nyata agar pembangunan lebih partisipatif dan tepat sasaran.

Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv

Tujuannya adalah menyusun Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dengan melibatkan suara warga, menggeser pendekatan dari top-down ke bottom-up.

Ketua DPRD Kota Salatiga Ketua DPRD Kota Salatiga, Dance Ishak Palit menekankan perencanaan pembangunan khususnya di wilayah Kecamatan Sidorejo harus dilakukan secara buttom-up.

“Agar kita tahu persis apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Hal terberat dari perencanaan pembangunan disebabkan oleh keterbatasan anggaran, sehingga kita sebagai pemerintah harus mengalokasikan prioritas-prioritas anggaran,” kata Dance.

Pada 2027 mendatang, imbuhnya, menjadi titik berat RPJMD yang berhubungan dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Dari sisi perencanaan pembangunan itu harus dilakukan secara bottom up, jadi kita tahu persis apa yang menjadi kebutuhan dari masyarakat itu, sehingga apa yang direncanakan itu klop dengan kebutuhan masyarakat Cuma memang kebutuhan itu banyak, tapi dananya terbatas. Itu yang saya bilang, sehingga perlu ada prioritas-prioritas anggaran. Kalau dua ribu dua puluh tujuh itu titik berat sesuai RPJMD itu ada dua yang tadi saya sampaikan, itu yang pertama berhubungan dengan pariwisata dan kedua ekonomi kreatif,” tutupnya.

0 Komentar