Kunjungan Awal Tahun 2026 (Januari 2026)
Memasuki tahun 2026, fokus bergeser pada peningkatan kualitas SDM dan modernisasi armadamaritim.
- Inggris (18-21 Jan 2026): Pendidikan : Kerja sama pembangunan 10 kampus standar internasional di Indonesia. Maritim : Pengadaan 1.582 kapal nelayan modern berteknologi tinggi untuk meningkatkan hasil tangkapan nasional secara berkelanjutan. Investasi : Komitmen tambahan £4 miliar (Rp 90 triliun) untuk industri hijau.
- Swiss (22 Jan 2026): WEF Davos : Memaparkan konsep "Prabowonomics" yang berfokus pada pertumbuhan ekonomi 8% melalui hilirisasi dan ketahanan energi mandiri di depan para pemimpin bisnis dunia.
Statistik dan Dampak Umum
- Frekuensi: Lebih dari 30 kali kunjungan ke sekitar 22 negara dalam 15 bulan pertama.
- Total Komitmen Investasi : Akumulasi nilai kesepakatan melampaui Rp 1.000 triliun.
- Dampak Geopolitik : Indonesia berhasil menjaga posisi "Bebas Aktif" dengan merangkul semua blok besar (AS, Tiongkok, Rusia, dan Uni Eropa) demi kepentingan ekonomi nasional.
Analisis Politik Luar Negeri Indonesia : Era Kepemimpinan Prabowo Subianto
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
Rangkaian perjalanan ini bukan sekadar kunjungan perkenalan, melainkan pernyataan posisi geopolitik Indonesia di tengah dinamika global yang semakin terpolarisasi.
Narasi Utama “A Friend to All, Enemy to None” 2.0
Meskipun melanjutkan doktrin “Bebas Aktif” Prabowo memberikan sentuhan personal yang lebih tegas. Jika era Jokowi lebih fokus pada diplomasi ekonomi transaksional, Prabowo terlihat mengintegrasikan diplomasi pertahanan, ketahanan energi, dan kedaulatan pangan ke dalam agenda internasionalnya.
Bedah Kunjungan Strategis
- Tiongkok (Beijing): Prioritas Ekonomi dan Keberlanjutan. Kunjungan pertama Prabowo ke Beijing menegaskan bahwa Tiongkok tetap menjadi mitra ekonomi utama. Poin Utama : Penandatanganan kerja sama ekonomi senilai $10 miliar. Analisis : Prabowo mengamankan keberlanjutan proyek infrastruktur strategis namun tetap menekankan kedaulatan Indonesia di Laut Natuna Utara melalui narasi yang hati-hati namun pasti.
- Amerika Serikat (Washington D.C.): Keseimbangan Geopolitik. Setelah dari Beijing, Prabowo segera menuju Gedung Putih. Ini adalah langkah simbolis untuk menunjukkan bahwa Indonesia tidak memihak dalam kompetisi kekuatan besar (Great Power Rivalry). Poin Utama : Pertemuan dengan Joe Biden dan komunikasi dengan Donald Trump (saat itu presiden terpilih). Analisis : Prabowo memperkuat hubungan pertahanan dan mengundang investasi AS dalam transisi energi, memastikan Indonesia tetap menjadi mitra keamanan penting bagi Barat.
- KTT G20 (Brasil) dan APEC (Peru): Kepemimpinan Global Kehadiran Prabowo di forum multilateral menunjukkan kembalinya profil “Statesman” Indonesia di panggung dunia. Poin Utama : Penekanan pada isu kemiskinan, kelaparan, dan perdamaian di Palestina serta Ukraina. Analisis : Prabowo memposisikan Indonesia sebagai pemimpin informal dari Global South (Negara-negara Selatan) yang mampu menjembatani kepentingan negara berkembang dengan negara maju.
- Inggris dan Perancis: Diplomasi Pertahanan dan Teknologi. Kunjungan ke Eropa Barat difokuskan pada penguatan alutsista dan transfer teknologi. Poin Utama : Kerja sama pertahanan tingkat lanjut. Analisis : Ini mencerminkan latar belakang Prabowo sebagai mantan Menteri Pertahanan yang memahami bahwa posisi tawar diplomatik harus didukung oleh kekuatan militer yang kredibel.
