PESAWAT kepresidenan Amerika Serikat, Air Force One, yang membawa Presiden Donald Trump menuju Swiss, putar balik ke bandara usai lepas landas pada Selasa (20/1/2026) malam waktu setempat.
Trump terpaksa membatalkan penerbangan dan kembali ke Washington DC. Menurut laporan media lokal, keputusan tersebut diambil setelah pesawat mengalami gangguan listrik ringan.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan keputusan untuk memutar balik penerbangan diambil tak lama setelah lepas landas sebagai langkah kehati-hatian.
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
Awak pesawat mendeteksi adanya gangguan teknis, meski tidak dijelaskan secara rinci.
Seorang reporter Gedung Putih yang ikut dalam penerbangan melaporkan lampu di kabin pers Air Force One sempat padam sesaat setelah pesawat mengudara. Namun, saat itu tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai penyebab kejadian tersebut.
Awak pesawat bergerak cepat untuk melakukan perpindahan, membawa kotak berisi buah, sandwich terbungkus, serta minuman keluar dan masuk pesawat.
Di area luar pesawat, petugas di darat terlihat menurunkan sekitar selusin koper dari Air Force One dan memindahkannya ke sebuah truk.
Setelah mendarat kembali di Washington, Trump dijadwalkan berpindah ke pesawat lain untuk melanjutkan perjalanan ke Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Swiss.
Sementara itu, layar televisi di dalam pesawat menayangkan siaran Fox Newsdengan teks berjalan yang memberitakan adanya gangguan listrik pada pesawat.
Menurut laporan The Guardian, insiden ini terjadi di tengah sorotan terhadap armada Air Force One yang saat ini digunakan.
Baca Juga:Kelompok True Crime Community Tumbuh Organik dan Sporadis Tanpa Tokoh SentralTokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan Berencana
Dua pesawat yang melayani presiden AS tersebut telah beroperasi hampir selama empat dekade. Upaya Boeing untuk mengirimkan pesawat pengganti juga terus mengalami penundaan.
Media AS melaporkan Trump berencana menerima pesawat jet mewah Boeing dari keluarga kerajaan Qatar untuk digunakan sebagai Air Force One, lalu tetap mengoperasikannya setelah masa jabatannya berakhir.
Rencana tersebut menuai perhatian karena adanya aturan ketat terkait hadiah bagi presiden AS.
