Trump Bocorkan Pesan Singkat Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte

Tangkapan layar sosial media Truth
Tangkapan layar sosial media Truth
0 Komentar

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump membagikan tangkapan layar dari pesan singkat Sekretaris Jenderal The North Atlantic Treaty Organization (NATO) Mark Rutte dan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Melalui akun Truth Social miliknya @realDonaldTrump, Presiden AS itu mengunggah screenshot dari pesan yang dikirimkan Rutte dan Macron.

“Tuan Presiden, Donald yang terhormat – apa yang Anda capai di Suriah hari ini sungguh luar biasa. Saya akan menggunakan kesempatan berinteraksi dengan media di Davos untuk menyoroti pekerjaan Anda di sana, di Gaza, dan di Ukraina. Saya berkomitmen untuk menemukan jalan keluar untuk Greenland. Saya tidak sabar untuk bertemu Anda. Hormat saya, Mark,” berikut isi pesan Mark Rutte pada Trump.

Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv

Emmanuel Macron juga mengirimkan pesan pada Trump berupa ajakan untuk makan malam bersama di Paris.

“Temanku, kita sepenuhnya sependapat tentang Suriah. Kita bisa melakukan hal-hal hebat tentang Iran. Saya tidak mengerti apa yang Anda lakukan tentang Greenland,” tulis Macron.

“Mari kita coba membangun hal-hal hebat: 1) Saya bisa mengatur pertemuan G7 setelah Davos di Paris pada Kamis sore. Saya bisa mengundang Ukraina, Denmark, Suriah, dan Rusia di sela-sela pertemuan. 2) Mari kita makan malam bersama di Paris pada hari Kamis sebelum Anda kembali ke AS, Emmanuel,” lanjutnya.

Terungkapnya pesan pribadi Mark Rutte kepada Trump dinilai sebagai sesuatu yang “tidak biasa”. Hal ini disampaikan oleh Oana Lungescu, juru bicara NATO yang kini menjadi peneliti senior di lembaga pertahanan Royal United Services Institute (RUSI).

Lungescu mengatakan bahwa isi pesan Rutte sebenarnya “konsisten dengan apa yang ia sampaikan di depan publik maupun secara pribadi”. Namun, ia menambahkan bahwa pemimpin lain “sering terlihat lebih keras di depan umum, tetapi lebih lunak atau kompromistis saat berbicara secara tertutup”.

“Sekarang ada banyak risiko bahwa sesuatu yang seharusnya bersifat pribadi tidak lagi benar-benar pribadi,” ujarnya, dikutip BBC.

Menurut Lungescu, ke depan ruang diplomasi kemungkinan akan lebih banyak diisi dengan percakapan lewat telepon dan pertemuan langsung. “Dalam kondisi seperti itu, kita bisa kembali ke diplomasi tradisional,” katanya.

0 Komentar