“Kalau ini di gunung, hutan, kemungkinan besar masyarakat atau orang yang melintas di situ tidak ada. Jadi yang kita dapatkan, nanti data itu diperiksa dengan sangat cermat,” paparnya.
Proses pencocokan dilakukan secara komprehensif, mulai dari data umum (seperti warna kulit, rambut, ciri badan), tanda khusus (tanda lahir, tato, bekas operasi), hingga data antemortem definitif seperti catatan medis dan DNA, yang menjadi jalur terakhir untuk konfirmasi positif.
Meski telah mendapatkan foto dari keluarga, Haris menegaskan bahwa pengenalan wajah dari foto saja tidak dapat diandalkan.
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
“Tidak bisa dipastikan karena wajah seseorang yang sudah meninggal, apalagi terkena cuaca dan kondisi tertentu, akan berubah. Tidak bisa dipastikan kesamaannya dengan foto saat masih hidup,” jelasnya.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Didik Supranoto menegaskan komitmen tim untuk menginformasikan perkembangan begitu ada kepastian. “Pada prinsipnya, kami akan segera merilis apabila sudah ada perkembangan dalam pemeriksaan yang dilakukan oleh tim Dokkes,” tutupnya.
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang disewa KKP, dinyatakan hilang sejak Sabtu (17/1) di Pegunungan Bulusaraung. Pesawat tersebut mengankut 10 penumpang, yang terbang dari Yogyakarta Tujuan Makassar.
Dari 10 penumpang (7 awak kabin dan 3 penumpang) baru dua yang ditemukan dengan kondisi sudah tidak bernyawa lagi. Satu jenazah berjenis kelamin perempuan, korban Florencia Lolita Wibisono sudah berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga.
Sementara jenazah pria masih dilakukan identifikasi. Sementara itu, delapan korban lainnya, masih dalam pencarian.
