Tim Dokkes Polda Sulsel Beberkan Proses Identifikasi 2 Jenazah Korban Pesawat ATR 42-500

Kapolda Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro, S.H., dan Biddokkes Polda Sulawesi Selatan menggelar konferensi
Kapolda Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro, S.H., dan Biddokkes Polda Sulawesi Selatan menggelar konferensi pers terkait perkembangan identifikasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500. (Humas Polda)
0 Komentar

PROSES identifikasi dua jenazah yang ditemukan di kawasan pegunungan Sulawesi Selatan menghadapi sejumlah kendala teknis. Kondisi jenazah, terutama yang ditemukan di kedalaman berbeda, menyebabkan pemeriksaan sidik jari tidak selalu memungkinkan.

Tim Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) Polda Sulsel pun mengerahkan metode alternatif seperti odontologi (gigi) dan DNA untuk menegaskan identitas dengan ketelitian tinggi, meski membutuhkan waktu lebih lama, khusus untuk jenazah pria, lantaran jenazah perempuan sudah berhasil diidentifikasi dan telah diserahkan pada keluarga, Rabu (21/1).

Kabid Dokkes Polda Sulsel, Kombes M. Haris, mengungkapkan bahwa tantangan utama terletak pada kondisi jenazah saat ditemukan sehingga kemungkinan bisa menghambat pemeriksaan identifikasi.

Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv

Meski kedua jenazah ditemukan dalam waktu berdekatan, kondisi fisik keduanya disebut berbeda signifikan akibat faktor lokasi temuan. Salah satu jenazah ditemukan di kedalaman sekitar 400 meter, sementara yang lain di kedalaman 200 meter. Perbedaan ini mempengaruhi tingkat kerusakan jaringan.

Metode Primer dan Sekunder

Menghadapi kendala tersebut, tim Dokkes tidak terburu-buru menetapkan identitas. Mereka mengedepankan prinsip ketelitian dan ketepatan dengan beralih ke metode identifikasi primer dan sekunder lainnya.

“Kita upayakan semaksimal mungkin. Kami bekerja sejak pagi setelah menerima jenazah pria. Mudah-mudahan kita mendapatkan hasil secepatnya,” ujar Haris.

Untuk jenazah kedua, yang diduga sidik jarinya sudah sulit diperiksa, tim fokus pada metode lain. “Kami masih berproses. Kami upayakan dengan data primer yang lain dari gigi, tulang (osteologi), dan DNA. Itu kami usahakan,” tegas Haris.

Ia menjelaskan, usia dapat diperkirakan dari kondisi gigi dan sejumlah parameter tulang lainnya. Namun, semua itu masih dalam tahap pemeriksaan mendalam.

Haris juga mengungkap tantangan lain, yaitu kecocokan data antemortem(sebelum meninggal) dari keluarga. Mereka memberikan foto yang diberikan adalah foto lama saat korban masih muda, sementara wajah jenazah dapat berubah drastis akibat faktor cuaca dan waktu, setelah meninggal.

“Kami selalu minta keluarganya untuk memberikan data-data yang tepat,” katanya.

Lebih lanjut, ia menyebut kasus ini sebagai disaster tertutup (closed disaster), berbeda dengan bencana massal di area terbuka yang ramai masyarakat.

0 Komentar