Gubernur Bank Indonesia Paparkan Pelemahan Nilai Rupiah hingga Level Rp17.000

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (Tangkapan Layar Youtube Bank Indonesia)
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (Tangkapan Layar Youtube Bank Indonesia)
0 Komentar

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan akan memperkuat kebijakan nilai tukar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak peningkatan ketidakpastian global.

Berdasarkan catatan BI, nilai tukar mata uang Garuda tersebut pada 20 Januari 2026 tercatat sebesar Rp16.945 per USD, melemah 1,53 persen secara point to point (ptp) bila dibandingkan dengan level akhir Desember 2025.

“Pelemahan nilai tukar tersebut dipengaruhi aliran keluar modal asing akibat meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global,” ungkap Perry dalam Pengumuman Hasil RDG Bulanan Periode Januari 2026, Rabu, 21 Januari 2026.

Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv

Selain itu, lanjut dia, kenaikan permintaan valuta asing (valas) oleh perbankan dan korporasi domestik sejalan dengan kegiatan ekonomi turut memengaruhi kinerja rupiah.

Langkah Bank Indonesia biar rupiah berani pukul mundur dolar

Guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, jelas Perry, Bank Indonesia menempuh intensitas langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar NDF baik di off-shore maupun on-shore (DNDF) dan pasar spot.

“Respons kebijakan ini dapat menjaga volatilitas nilai tukar rupiah dan tetap konsisten dengan upaya pencapaian sasaran inflasi 2,5 persen plus minus satu persen pada 2026,” papar dia.

Ke depan, Bank Indonesia berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah termasuk melalui intervensi terukur di transaksi NDF, DNDF, dan pasar spot, serta memperkuat strategi operasi moneter pro-market.

“Nilai tukar rupiah diprakirakan akan stabil dengan kecenderungan menguat didukung oleh imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia,” urai Perry.

0 Komentar