PERDANA Menteri Israel Benjamin Netanyahu dipastikan mengambil kursi dalam ‘Dewan Perdamaian’ bentukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Kepastian ini muncul setelah kantor Netanyahu secara resmi mengonfirmasi penerimaan undangan dari orang nomor satu di Gedung Putih tersebut pada Rabu (21/1/2026).
Langkah diplomasi ini dilakukan bertepatan dengan dimulainya fase kedua perjanjian gencatan senjata dengan Hamas. Sebuah momentum krusial yang diharapkan benar-benar menjadi titik henti dari konflik berdarah yang telah meluluhlantakkan Jalur Gaza.
Mandat Besar: Dari Modal hingga Mobilisasi Pasukan
Namun, kehadiran Netanyahu di dewan ini bukan tanpa sorotan. Banyak pihak mulai mempertanyakan objektivitas badan tersebut, mengingat Donald Trump memegang kendali penuh dalam memimpin dan menyeleksi anggota-anggotanya.
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
Trump memproyeksikan Dewan Perdamaian bukan sekadar forum diskusi. Badan ini memiliki mandat kelas berat: mengawasi pengembangan kapasitas tata kelola di kawasan, memantau penarikan investasi, hingga mengelola pendanaan besar-besaran untuk rekonstruksi pasca-perang.
Tak hanya itu, dewan ini juga akan mengatur mobilisasi modal di kawasan Timur Tengah.
Koalisi Global Mulai Terbentuk
Gedung Putih tampaknya bergerak cepat menggalang kekuatan dunia. Mengutip laporan Associated Press dan Reuters, sejumlah negara telah menyatakan komitmennya untuk bergabung. Daftar anggota yang mulai mengisi kursi dewan ini antara lain Uni Emirat Arab (UEA), Maroko, Hongaria, Argentina, hingga Belarus.
Dari Asia, Sekretaris Jenderal Vietnam To Lam memberikan sinyal kuat dengan menyatakan kesiapan negaranya sebagai anggota pendiri. Bagi Vietnam, dewan ini adalah instrumen penting untuk mengeksekusi Resolusi 2803 Dewan Keamanan PBB yang diadopsi akhir tahun lalu.
Dukungan juga datang dari Minsk. Kementerian Luar Negeri Belarus menyatakan Presiden Alexander Lukashenko siap berpartisipasi, seraya berharap kewenangan organisasi ini bisa meluas melampaui mandat awalnya.
Undangan Terus Menyebar
Trump belum berhenti melobi pemimpin dunia lainnya. Undangan serupa dikabarkan telah mendarat di meja kerja Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Presiden Mesir Abdel-Fattah el-Sissi, hingga Perdana Menteri Kanada Mark Carney.
Bahkan, negara-negara besar seperti Rusia dan India, serta badan eksekutif Uni Eropa juga mengonfirmasi telah menerima undangan tersebut.
