Eropa dan ‘Chernobyl Terbang’
Bergeser ke belahan bumi utara, ketegangan tak kalah mencekam. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte baru-baru ini memperingatkan Barat untuk bersiap menghadapi skala perang yang pernah dialami kakek-nenek kita.
Vladimir Putin, yang tak kunjung melunak, secara terbuka menyatakan kesiapannya berperang melawan Eropa jika perlu. Moskow mulai menguji saraf NATO dengan pelanggaran wilayah udara di Estonia, Rumania, dan Polandia. Ketakutan akan invasi membuat negara-negara Baltik —Estonia, Latvia, Lithuania— bersama Polandia dan Finlandia, menarik diri dari perjanjian ranjau darat demi memperkuat perbatasan.
Namun, yang paling mengerikan adalah ‘mainan’ baru Putin. Uji coba rudal jelajah bertenaga nuklir Burevestnik pada Oktober lalu sukses membuat dunia menahan napas. Dijuluki ‘Chernobyl Terbang’ karena emisi radioaktifnya, rudal ini diklaim memiliki jangkauan tak terbatas. Ditambah rudal hipersonik yang mampu menjangkau Eropa hingga AS bagian barat, Putin mengirim pesan jelas: Perang Dunia III bukan mustahil.
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
Kekhawatiran terbesar Eropa saat ini adalah lunaknya sikap Trump terhadap Moskow. Jika AS membiarkan Rusia, Putin mungkin merasa di atas angin untuk menyerang anggota NATO. Jika itu terjadi, Pasal 5 NATO aktif, dan dunia terseret dalam perang total.
Bom Waktu di Asia
Di Timur Jauh, skenario mimpi buruk berpusat pada ambisi China terhadap Taiwan. Tahun 2027 disebut sebagai ‘tahun keramat’, menandai seratus tahun Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), yang diprediksi banyak pengamat sebagai target waktu invasi Beijing.
Latihan militer China kian agresif, mulai dari simulasi blokade hingga uji coba alat pemotong kabel bawah laut untuk memutus internet negara lain. The Independentmenyoroti kalkulasi berbahaya Xi Jinping: dengan AS yang sibuk ‘memadamkan api’ di Iran, Ukraina, dan Gaza, Washington mungkin terlalu terganggu untuk menyelamatkan Taiwan tepat waktu.
Namun, kesalahan perhitungan di Selat Taiwan bisa memicu reaksi berantai yang menyeret India, Jepang, Australia, hingga AS ke dalam konfrontasi global.
Di semenanjung tetangga, Kim Jong-un kian mesra dengan Moskow. Ribuan tentara dan senjata Korea Utara dikirim ke Ukraina, barter dengan teknologi militer Rusia. Pyongyang bahkan telah membatalkan pakta non-permusuhan dengan Seoul dan terus memamerkan kapal perusak berkemampuan nuklir. China mungkin saja mendorong Korea Utara untuk memprovokasi Korea Selatan demi memecah konsentrasi militer AS.
