AROMA mesiu tak pernah sepekat ini sejak Perang Dingin berakhir. Dari Teheran hingga Tallinn, dari Selat Taiwan hingga Semenanjung Korea, sinyal bahaya itu berkedip serentak. Pertanyaan mengerikan itu kini bukan lagi sekadar imajinasi liar para penulis fiksi: Apakah kita sedang berjalan menuju Perang Dunia III?
“Iran tidak mencari perang, tapi kami sepenuhnya siap untuk perang.”
Kalimat dingin itu meluncur dari bibir Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, di hadapan para duta besar di Teheran, Senin lalu. Pernyataan itu bukan sekadar retorika diplomatik, melainkan respons langsung atas ancaman intervensi militer Amerika Serikat (AS) yang kian nyata di bawah pemerintahan Donald Trump. Araghchi memperingatkan musuhnya agar tidak melakukan ‘salah perhitungan’. Iran hari ini, klaimnya, jauh lebih siap dibandingkan saat perang 12 hari melawan Israel Juni lalu.
Timur Tengah hanyalah satu titik api dalam peta dunia yang sedang terbakar. The New Yorker menyebut tatanan internasional kini jungkir balik akibat ‘proyek imperialis baru’ pemerintahan Trump. Gaya unilateralisme yang narsis —terlihat dari penggunaan kekuatan di Venezuela hingga ambisi atas Greenland— menjadi preseden berbahaya bagi kekuatan ekspansionis lain seperti China dan Rusia.
Bara di Timur Tengah
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
Eskalasi di Timur Tengah bukan lagi sebuah kecelakaan, melainkan sebuah arah yang pasti. Trump sesumbar memiliki ‘opsi sangat kuat’ terhadap Iran, termasuk aksi militer. Teheran tak tinggal diam. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, bersumpah setiap serangan akan memicu balasan telak ke Israel serta pangkalan AS di kawasan tersebut.
Israel kini dalam kondisi siaga tinggi. The Telegraph melaporkan, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mungkin memanfaatkan serangan udara AS sebagai momentum menghancurkan target mereka sendiri. Namun, risikonya jelas: hujan rudal Iran ke negara Yahudi itu tak akan terelakkan.
Meski proksi Iran seperti Hizbullah, Hamas, dan rezim Assad di Suriah melemah, ‘hantu’ nuklir Iran masih bergentayangan. Pentagon boleh saja membantah klaim Trump yang menyebut kemampuan nuklir Iran sudah habis. Faktanya, dengan simpanan 440 kg uranium yang sangat diperkaya, insentif Iran untuk menjadi negara nuklir justru meroket pasca-serangan fasilitas nuklir mereka musim panas lalu.
