“Dan terdapat awan CB (cumulonimbus) pada area pendaratan di ketinggian sekitar 1.700-1.800 ft, namun kondisi tersebut masih memungkinkan untuk lepas landas dan pendaratan,” ujarnya.
“Jadi yang perlu diwaspadai adalah bandaranya relatif aman dengan jarak pandang yang cukup tetapi untuk area untuk menuju ke pendaratan ini yang perlu diwaspadai akan adanya awan CB di ketinggian 1.700-1.800 yang kami sampaikan tadi cukup tinggi dan tebal (dense cloud),” sambung dia.
Ketua Komisi V DPR RI Lasarus mempertanyakan penjelasan BMKG terkait posisi awan CB di sekitar Bandara Sultan Hasanuddin saat kejadian. Lasarus menyoroti letak bandara yang berada di kawasan datar dan dekat dengan laut.
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
“Setahu saya bandara ini kan di tepi laut pak, dan di tanah yang datar, kita masuk (arahnya) dari laut, persawahan kan Bandara Hasanuddin di situ, nah, ini banyak jadi pertanyaan kita orang awam ini, itu kan CB nya ketinggian di 1.700-1.800 kaki harusnya kan dengan posisi itu di tepi laut dan daerah rendah harusnya pesawat dengan jarak 9 kilometer itu menurut saya visual 9 kilometer itu aman,” ujar Lasarus.
Menanggapi hal itu, Faisal menjelaskan pesawat ATR tersebut berada pada ketinggian jelajah sekitar 6.500 kaki sebelum melakukan penurunan untuk mendarat. Saat memasuki fase pendekatan, pesawat harus melewati lapisan awan cumulonimbus yang berada di ketinggian 1.700-1.800 kaki.
“Begitu dia turun ke bandara, yang METAR tadi kami sebutkan itu kondisi di Bandaranya pak, jadi bandaranya visibility-nya baik ya, tidak ada gangguan signifikan sehingga bisa untuk pendaratan, tapi approach-nya nanti yang akan mempengaruhi, ya jadi jarak pandang itu berlaku pada saat akan pendaratan,” tuturnya.
