MENDENGAR retorika Donald Trump, orang mungkin akan berpikir Moskow dan Beijing tengah mengepung pesisir Greenland, siap menerkam untuk memperluas kekuatan mereka di wilayah Arktik.
“Ada kapal perusak Rusia, ada kapal perusak Tiongkok, dan yang lebih besar lagi, ada kapal selam Rusia di mana-mana,” ujar Presiden Trump baru-baru ini.
Narasi inilah yang mendasari keyakinan Trump kendali Amerika Serikat atas Greenland bersifat esensial. Namun, respons Moskow terhadap tuduhan tersebut justru jauh dari perkiraan. Alih-alih merasa terancam, Kremlin melalui media pemerintahnya justru menunjukkan sikap yang mengejutkan: dukungan penuh.
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
Dalam sebuah artikel yang mencengangkan, surat kabar pemerintah Rusia, Rossiyskaya Gazeta, memuji langkah Trump dan melontarkan kritik tajam kepada para pemimpin Eropa yang menentang aneksasi tersebut.
“Yang menghalangi terobosan bersejarah Presiden AS adalah keras kepalanya Kopenhagen dan solidaritas semu dari negara-negara Eropa yang tidak mau berkompromi, termasuk Inggris dan Prancis yang mengaku sebagai teman Amerika,” tulis surat kabar tersebut.
Media tersebut bahkan menyebut akuisisi Greenland sebagai “kesepakatan terbesar” dalam hidup Trump. Mereka memprediksi jika Trump berhasil menganeksasi Greenland sebelum peringatan 250 tahun Deklarasi Kemerdekaan pada 4 Juli 2026, ia akan tercatat dalam sejarah setara dengan tokoh besar lainnya.
“Bagi rakyat Amerika, pencapaian itu setara dengan peristiwa besar dunia seperti penghapusan perbudakan oleh Abraham Lincoln pada tahun 1862,” tulis Rossiyskaya Gazeta.
Mengapa Rusia justru menyemangati Trump? Jawabannya bukan karena kemurahan hati, melainkan kepentingan strategis. Moskow menyadari bahwa obsesi Trump terhadap Greenland telah menciptakan keretakan besar dalam aliansi transatlantik dan internal NATO.
Ancaman tarif terhadap negara Eropa yang menentang rencana ini memperlemah hubungan AS dengan sekutunya. Bagi Kremlin, apa pun yang mengancam keutuhan aliansi Barat adalah kemenangan bagi Rusia.
Tabloid Rusia Moskovsky Komsomolets bahkan menulis dengan nada mengejek: “Eropa benar-benar kebingungan, dan sejujurnya, sangat menyenangkan melihat hal ini terjadi.”
Baca Juga:Kelompok True Crime Community Tumbuh Organik dan Sporadis Tanpa Tokoh SentralTokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan Berencana
Selain memecah NATO, isu Greenland juga dimanfaatkan oleh komentator pro-Kremlin untuk membenarkan tindakan militer Rusia di Ukraina. Bagi Moskow, memenangkan perang di Ukraina tetap menjadi prioritas utama. Dengan menjaga hubungan positif dengan pemerintahan Trump dan terus mengkritik Eropa, Rusia berharap jalannya di Ukraina menjadi lebih mulus.
