TIM SAR gabungan berhasil mengevakuasi korban pertama kecelakaan pesawat ATR 42-500 jatuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, ke perkampungan warga yang jauh dari titik lokasi kecelakaan.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, mengatakan bahwa tim SAR gabungan melakukan teknik rappelling di titik yang tidak jauh dari lokasi awal pesawat jatuh.
“Tim menurunkan tali sekitar 100 meter ke dasar jurang yang berada dekat dengan serpihan pesawat. Proses turun menggunakan tali dan alat descender memakan waktu sekitar dua hingga tiga menit per orang,” kata Arif dalam keterangannya, Selasa (20/1).
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
Sebanyak 10 personel tim SAR gabungan diturunkan ke dasar jurang. Setibanya, tim melakukan penyisiran dengan berjalan mengikuti celah jalur air sambil menelusuri jejak serpihan pesawat sejauh kurang lebih 200 meter ke arah bawah.
Salah satu rescuer Basarnas Makassar yang turun langsung ke jurang, Rusmadi, mengungkapkan kondisi yang dihadapi tim di lapangan bahwa korban pertama jenis kelamin laki-laki ditemukan dengan posisi tersangkut di dahan pohon pada Minggu (18/1) sekitar pukul 13.05 WITA.
“Setelah itu, tim melakukan proses packing jenazah selama kurang lebih satu jam karena posisi korban berada di kemiringan kurang lebih 30 derajat dan tepat di bibir tebing,” kata Rusmadi.
Upaya pengangkatan jenazah, kata Rusmadi, sempat dilakukan ke arah atas sejauh sekitar 60 meter. Namun, karena keterbatasan tenaga, peralatan, serta kondisi hujan deras yang terus mengguyur lokasi membuat tim melakukan evaluasi lapangan.
“Setelah diskusi, tim memutuskan mengubah arah evakuasi ke bawah menuju kampung terdekat karena medan dinilai lebih memungkinkan untuk proses evakuasi lanjutan,” ujarnya.
Rusmadi menyebut selama proses evakuasi ke bawah yang berlangsung sekitar tiga jam, kondisi cuaca semakin memburuk. Hujan deras disertai kabut tebal dan suhu dingin menyelimuti area operasi, membuat pergerakan tim semakin terbatas.
Tim akhirnya memutuskan untuk bermalam di lereng tebing dengan kontur tanah berbatu yang labil dan berisiko longsor akibat hujan yang tidak berhenti. Seluruh personel bertahan bersama jenazah selama kurang lebih 30 jam di lokasi.
