KOMITE Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap pesawat ATR 42-500 mengalami kecelakaan di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan hingga hancur berkeping-keping.
Pesawat yang mengangkut 10 orang itu baru ditemukan, Minggu (18/1/2026) setelah pencarian yang dilakukan sejak Sabtu (17/1/2026) petang.
Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan hingga hari ini, Senin (19/1/2026) korban ditemukan baru satu orang dan belum teridentifikasi. Petugas gabungan juga masih bertahan di kawasan Gunung Bulusaraung untuk mengevakuasi korban serta serpihan pesawat.
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
Berdasarkan penyelidikan sementara, pihaknya mengungkap penyebab kecelakaan hancur berkeping-keping karena menabrak lereng gunung. Kondisi ini dinamakan sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT).
“Kita namakan CFIT. Jadi, memang pesawat menabrak bukit atau lereng gunung, sehingga terjadi beberapa pecahan atau serpihan pesawat akibat terjadinya benturan. Jadi, memang kita mengkategorikan sebagai CFIT,” ujarnya.
Menurutnya, insiden kecelakaan pesawat itu bukan disengaja karena masih bisa di control oleh pilotnya. Namun karena sudah mendekati lereng gunung maka benturan tidak dapat dihindari.
Akibat dari benturan keras tersebut, dugaan kuat badan pesawatnya mengenai benda keras sehingga berhamburan lalu menjadi serpihan-serpihan. Serpihan ini yang ditemukan tim SAR gabungan dalam operasi tersebut.
“Pesawatnya itu masih bisa dikontrol oleh pilotnya, tapi menabrak, tapi bukan sengaja menabrak (lereng gunung setempat). Jadi pesawatnya masih bisa dikontrol,” tuturnya.
“CFIT itu mengidentifikasikan bahwa pesawatnya masih bisa dikontrol atau dikendalikan oleh pilotnya. Tapi, karena sesuatu hal, serpihan pesawat yang ditemukan ini karena menabrak bukit atau gunung,” katanya lagi menjelaskan.
Kendati demikian, pihak KNKT masih terus melakukan penyelidikan lebih lanjut berkaitan dengan kecelakaan itu. Soerjanto tidak ingin berspekulasi apakah ada kelalaian pada insiden itu atau tidak, karena sedang diselidiki sebabnya.
Baca Juga:Kelompok True Crime Community Tumbuh Organik dan Sporadis Tanpa Tokoh SentralTokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan Berencana
Sebelumnya, pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dinyatakan hilang kontak di wilayah pegunungan Bulusaraung daerah perbatasan Kabupaten Maros-Pangkep, Sulsel saat hendak mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Sabtu (17/1/2026) siang.
Pesawat ini ditumpangi 10 orang, tujuh orang kru pesawat dan tiga orang penumpang. Ketiganya diketahui pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Masing-masing Ferry Irawan dengan pangkat penata muda tingkat I dan jabatan analis kapal pengawas.
