TIM SAR gabungan berhasil menemukan korban kedua berjenis kelamin perempuan, dari jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di lereng Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, Senin (19/1). Namun, proses evakuasi kedua jenazah, termasuk korban pertama laki-laki yang sebelumnya ditemukan, masih tertunda akibat cuaca buruk dan medan yang ekstrem.
Korban kedua ditemukan pada pukul 14.20 Wita di lereng dengan kedalaman sekitar 500 meter dari puncak gunung.
Kepala Basarnas RI, Marsekal Madya TNI Muh. Syafii, mengonfirmasi penemuan tersebut di Kantor Basarnas Makassar. “Kemudian hari ini juga telah ditemukan satu korban kedua,” ujarnya.
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
Identitas dan kondisi pasti kedua korban masih akan dilakukan identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri. Lokasi penemuan sendiri digambarkan sangat sulit.
“Lokasi kejadian berada dalam kondisi tebing yang sangat terjal dan curam. Begitu juga dengan kedalaman korban diperkirakan ada di kedalaman 500 meter dari puncak,” jelas Syafii.
Meski kedua korban telah ditemukan, upaya membawa jenazah ke posko SAR masih menghadapi tantangan berat. Syafii mengungkapkan bahwa proses evakuasi masih berlangsung dan terkendala oleh dua faktor utama, cuaca buruk, dan medan yang ekstrem.
“Saya sampaikan saat ini sedang dalam upaya proses evakuasi. Kedua jenazah belum berhasil dievakuasi akibat kondisi alam yang tidak mendukung,” ucap Syafii.
Selain korban, serpihan-serpihan pesawat, pada hari ketiga pencarian tim SAR menemukan topi, sepatu, bahkan satu baju patroli udara bertulis nama salah satu penumpang yang ada di manifest pesawat. Penumpang itu merupakan pegawai di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), atas nama Ferry.
Operasi pencarian dan evakuasi yang melibatkan berbagai elemen, termasuk TNI AD, terus dilakukan dengan hati-hati mengingat lokasi yang berbukit, bertebing, dan rentan terhadap perubahan cuaca di ketinggian.
