Natal Bersama Persekutuan Doa Oikumene Warga Pengilon, Wujudkan Salatiga Kota Toleransi

Pengurus Persekutuan Doa Oikumene (PDO) RW 03 Pengilon Salatiga. (Josua)
Pengurus Persekutuan Doa Oikumene (PDO) RW 03 Pengilon Salatiga. (Josua)
0 Komentar

PERAYAAN natal merupakan suatu acara yang biasa dilakukan oleh umat Kristiani, mereka berkumpul dengan tujuan yang sama yaitu menyambut kelahiran Yesus Kristus sebagai Juruselamat.

Namun melihat realita yang ada, bahwa banyak daerah di Indonesia yang masih kesulitan untuk melaksanakan ibadah perayaan natal, khususnya diluar Gereja.

Tapi dari Kota Salatiga, Indonesia bisa belajar, bahwa wujud toleransi bisa dilakukan dari hal kecil dengan cara memperbolehkan tiap pemeluk kepercayaan melaksanakan ibadahnya tanpa dicampuri. Dengan begitu, Indonesia bisa terus meningkat toleransinya antar umat beragama.

Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv

Salatiga merupakan kota kecil yang mampu mendobrak kota-kota lain yang masih kurang dalam hal toleransi, dan tentunya hal tersebut terlaksana bukan hanya satu sektor yang berusaha dan berupaya, tapi seluruh bagian baik pemerintah kota salatiga, aparat setempat, perangkat desa, dan lain-lain, bahkan masyarakatnya pun turut andil dalam mensukseskan Salatiga menjadi kota paling toleransi nomor satu di Indonesia.

Sabtu (17/1/2025) di lingkungan RW 03 di Balai Dukuh Pengilon Kelurahan Mangunsari Salatiga, dilaksanakan Natal Bersama dihadiri kurang lebih 150 orang dari denominasi gereja yang berbeda. Hal tersebut membuktikan bahwa Pemerintah Kota Salatiga benar-benar mewujudkan Salatiga menjadi kota tertoleran di Indonesia.

Salah satu pengurus PDO RW 03 Pengilon, F.A.Prabandari mengungkapkan acara ini kegiatan rutin walaupun kepengurusan baru dibentuk, baru dua kali natal, dan paskah.

“Lingkungan RW 03 Pengilon ini toleransinya cukup bagus karena saling mendukung, seperti RT-nya turut hadir meramaikan acara ini. Ia juga nemiliki kerinduan kalua ada acara seperti ini seluruh warga kristiani bisa dating, untuk saat ini kekitar 170 an orang hadir dalam natal Bersama, dengan target sekitar 300 orang. Kitanya ke depan bisa semakin bertambah,” ungkapnya, Minggu (18/1).

“Ini kegiatan rutin ya setiap Natal, cuma memang untuk kepengurusan baru ini baru dua kali Natal, bukan dua kali Paskah ya. Saya kira di RW kita juga toleransinya cukup bagus ya, karena juga saling mendukung, kayak tadi juga Pak RT-nya juga rawuh, jadi baguslah kalau di sini. Kerinduan saya ya untuk tingkat RW ini kepinginnya kalau kita Natalan kayak gini itu semua warga datang. Tidak hanya yang Kristen Katolik gitu ya nggak hanya Kristiani tapi semua yang itu apa namanya Muslim dan yang lain-lain bisa hadir bersama jadi kita bisa semua warga merayakan Natal. Kalau miss enggak ya cuman kalau harapan, ya harapannya warga kita ini Kristiani itu katanya sekitar 300 (tiga ratus), tapi hadir kita mungkin 170 (seratus tujuh puluh), ya seratus tujuh puluhan lah belum belum tembus di angka 200 (dua ratus), dan harapannya kedepan semakin bertambah terus,” pungkasnya.

0 Komentar