Beijing juga menggunakan pernyataan lama mantan Presiden AS Joe Biden sebagai bukti pendukung. Pada 2016, dalam wawancara dengan PBS, Biden pernah mengungkapkan percakapannya dengan Xi Jinping tentang potensi nuklir Jepang.
“Apa yang terjadi jika Jepang bisa menjadi negara nuklir besok? Mereka memiliki kapasitas untuk melakukannya hampir dalam semalam,” ujar Biden kala itu. Pernyataan ini kini digunakan Tiongkok untuk melegitimasi ketakutan mereka bahwa Jepang hanya tinggal “memasang baut terakhir” pada bom nuklir mereka.
Langkah Jepang memperkuat militer—termasuk anggaran pertahanan rekor USD 58 miliar tahun lalu—dipicu ancaman nyata dari Korea Utara yang agresif, militerisasi Tiongkok yang sangat cepat, serta invasi Rusia ke Ukraina.
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
Bagi Tokyo, mengandalkan “Payung Nuklir” Amerika Serikat mulai dirasa tidak cukup di tengah dunia yang makin tidak stabil. Namun, wacana nuklir ini menghadapi tantangan besar secara domestik. Sebagai satu-satunya bangsa yang pernah menderita serangan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, mayoritas masyarakat Jepang masih sangat menentang kepemilikan senjata nuklir.
Beijing mendesak komunitas internasional untuk mengambil langkah tegas guna meredam ambisi Tokyo. Namun, bagi para pengamat, laporan Tiongkok ini juga merupakan bagian dari perang informasi untuk membatasi ruang gerak Jepang dalam memperkuat pertahanan regionalnya.
