Ancaman, Siaga Perang di Kawasan Timur Tengah, Evakuasi Pangkalan di Qatar, Mengapa Trump Tunda Serang Iran?

Iran
Iran
0 Komentar

Israel pun menunjukkan sikap yang lebih berhati-hati. Selama sepekan terakhir, retorika publik Tel Aviv terhadap Iran melunak. Terungkap bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, seperti para pemimpin Arab lainnya, juga mendesak Trump untuk tidak menyerang saat ini.

Dalam perang Juni lalu, Iran diyakini hanya menggunakan sekitar separuh dari rudal balistik jarak menengahnya, dengan sisa persenjataan diperkirakan masih sekitar 1.500 unit. Sementara itu, Israel menghadapi kekhawatiran serius terkait stok rudal pencegatnya.

Beberapa estimasi menyebutkan bahwa jumlah rudal yang ditembakkan Israel pada Juni lalu setara dengan kapasitas produksi selama dua tahun, dan seiring berjalannya konflik, semakin banyak rudal Iran yang berhasil menembus pertahanan udara.

Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv

Meskipun pemerintah dan publik Israel siap menanggung trauma serangan lanjutan jika hasilnya jelas menguntungkan keamanan nasional, kekhawatiran khusus muncul terkait stok pencegat Arrow anti-balistik.

Sejumlah kalangan di lembaga keamanan Israel menilai ini bukan waktu ideal untuk eskalasi baru. Mantan Penasihat Keamanan Nasional Israel, Zachi Hanegbi, menulis bahwa sebelum perintah tempur dikeluarkan, kekuatan dunia membutuhkan perencanaan matang dan konsentrasi penuh atas kemampuan pertahanan udara, intelijen, logistik, hingga komando dan kendali.

Dari sisi militer, kehadiran Amerika Serikat di kawasan saat ini terbilang terbatas. Hanya tiga kapal perusak dan tiga kapal tempur pesisir yang dikerahkan, tanpa satu pun kelompok tempur kapal induk—sesuatu yang tidak lazim untuk Timur Tengah. Kapal induk AS justru tersebar di Jepang, Laut Cina Selatan, dan lepas pantai Venezuela.

Meski USS Abraham Lincoln dilaporkan mengubah haluan menuju barat, kekosongan ini secara signifikan mengurangi opsi ofensif Gedung Putih. Jumlah jet tempur canggih berbasis darat, seperti F-22 dan F-35, juga sangat terbatas di kawasan.

Dengan aset yang ada, AS mungkin hanya mampu melancarkan serangan terbatas dan bersifat simbolis, misalnya melalui rudal Tomahawk dari kapal perusak atau kapal selam. Operasi yang lebih besar dan berkelanjutan hampir pasti membutuhkan kapal induk, belum lagi menghadapi sekitar 200.000 personel IRGC dan jutaan aparat keamanan serta milisi Basij.

0 Komentar