SAAT Donald Trump mempertimbangkan kemungkinan serangan terhadap Iran pada pekan ini, para pekerja kota di Israel kembali membuka tempat-tempat perlindungan bom umum yang telah lama berdebu sejak perang singkat pada Juni lalu.
Situasi regional tampak memanas: Trump disebut sudah “siap tempur”, kawasan Timur Tengah bersiap menghadapi putaran baru serangan udara, dan sejumlah pejabat Inggris bahkan mulai mengevakuasi pangkalan serta kedutaan mereka.
Namun menjelang akhir pekan, suasana di Washington berubah drastis. Serangan yang ditunggu-tunggu itu tak kunjung terjadi. Sesuatu membuat presiden Amerika Serikat ragu untuk melangkah lebih jauh.
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
Sebagian jawabannya ada di dalam Iran sendiri. Alih-alih melemah, rezim di Teheran justru tampak lebih kokoh dibandingkan sebelumnya. Unjuk rasa pro-pemerintah memenuhi jalan-jalan ibu kota, sementara aparat keamanan terlihat kembali memegang kendali penuh.
Di saat yang sama, Iran meningkatkan kesiapan militernya. Seorang komandan elite Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim bahwa negaranya berada di puncak kesiapan, dengan persediaan roket yang bahkan meningkat sejak konflik 12 hari melawan Israel musim panas tahun lalu.
Meski sempat berperang, Iran masih memiliki kekuatan militer yang signifikan untuk merepotkan musuh-musuhnya di kawasan, terutama sebelum bala bantuan besar Amerika Serikat tiba. Yang paling mengkhawatirkan adalah persediaan besar rudal balistik jarak pendek yang mampu menjangkau pangkalan dan aset militer AS di Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, Kuwait, Oman, dan Arab Saudi.
Iran juga berpotensi menargetkan infrastruktur energi di Teluk, seperti yang pernah dilakukannya terhadap Arab Saudi. Perkiraan terbaik menyebutkan Iran memiliki sekitar 1.750 rudal balistik jarak pendek, termasuk Fateh-110, Fateh-313, Zolfaghar, dan Qiam-1.
Di sisi lain, Amerika Serikat memang memiliki baterai pertahanan udara Patriot di Timur Tengah, tetapi sistem ini terutama efektif pada fase akhir lintasan rudal. Untuk menekan serangan sejak awal, Washington membutuhkan lebih banyak kapal perusak dan jet tempur di kawasan. Tak mengherankan jika para pemimpin negara-negara Teluk mendesak Trump untuk menahan diri.
Menurut Matthew Savill dari Royal United Services Institute, negara-negara Arab tidak keberatan melihat Iran melemah, tetapi mereka jauh lebih memilih Iran yang lemah daripada risiko pembalasan besar-besaran yang bisa mengguncang kawasan. Apalagi, peran mereka sangat penting dalam keberhasilan inisiatif perdamaian Gaza yang diprakarsai Trump.
