OTORITAS Iran dilaporkan akan segera memulihkan layanan komunikasi dan internet setelah memberlakukan pemblokiran di tengah gelombang protes besar akibat kesulitan ekonomi sejak akhir bulan lalu. Informasi tersebut disampaikan kantor berita Fars News Agency dan dikutip Antara pada Sabtu, 17 Januari 2026.
Mengutip seorang pejabat keamanan, keputusan pemulihan diambil setelah otoritas menilai bahwa “persoalan keamanan sudah dapat ditangani” serta sejumlah tokoh kunci yang disebut sebagai bagian dari “organisasi teror” telah ditahan aparat keamanan.
Pejabat setempat mengklaim bahwa pembatasan akses internet telah “melemahkan secara signifikan” koneksi jaringan oposisi di luar negeri dengan kelompok di dalam Iran, sekaligus mengganggu operasional apa yang mereka sebut sebagai “sel-sel teror.”
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
Berdasarkan rencana pemulihan layanan komunikasi, layanan pesan singkat (SMS) akan dipulihkan pada tahap pertama. Selanjutnya, pemulihan sistem internet nasional serta aplikasi-aplikasi domestik akan dilakukan pada tahap kedua, sebelum akses internet internasional dipulihkan pada tahap ketiga.
Sumber dalam negeri mengonfirmasi bahwa sejumlah aplikasi perpesanan domestik, seperti Eita dan Bale, telah kembali dapat diakses setelah mengalami gangguan selama beberapa hari.
Pembatasan layanan komunikasi diberlakukan setelah unjuk rasa akibat kesulitan ekonomi berubah menjadi kerusuhan besar pada 8 Januari. Protes tersebut dipicu oleh meningkatnya inflasi dan melemahnya nilai tukar mata uang rial.
Pejabat Iran menyatakan bahwa pemerintah “sepenuhnya menyadari kewajiban hak asasi manusia” terhadap warganya dan telah mengambil “semua langkah yang diperlukan untuk menahan diri semaksimal mungkin,” seraya tetap menjalankan tugas untuk melindungi masyarakat serta menjaga ketertiban umum dan keamanan nasional.
Kelompok pemantau internet NetBlocks terkini melaporkan sudah ada peningkatan konektivitas internet di Iran, namun masih sekitar 2 persen dari tingkat normal.
Sementara itu, di tengah belum adanya data resmi pemerintah terkait jumlah korban, sebuah organisasi hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat menyebut jumlah korban tewas mencapai 3.090 orang.
Menurut Human Rights Activists News Agency (HRANA), sedikitnya 2.055 orang lainnya mengalami luka-luka dan 22.123 orang ditangkap di berbagai wilayah Iran sejak kerusuhan bermula.
