PESAWAT ATR 42-500 Indonesia Air Transport rute Yogyakarta-Makassar mengalami hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026 sekitar pukul 12.23 WITA (sebelumnya diberitakan 13.17 Wita). Jarak pandang di sekitar area saat itu ialah sekitar 8 kilometer.
“Informasi awal terkait kondisi cuaca pada saat kejadian menunjukkan jarak pandang (visibility) sekitar 8 kilometer dengan kondisi cuaca di sekitar area dilaporkan sedikit berawan,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, dalam keterangan.
“Berkaitan dengan antisipasi kondisi cuaca, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara mengimbau seluruh operator penerbangan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dinamika cuaca, melakukan perencanaan penerbangan secara maksimal, serta mematuhi persyaratan cuaca minimum pada tahap dispatch, take off, dan landing sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP),” lanjutnya.
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kondisi jarak pandang sekitar 8 km seharusnya cukup bagi pilot untuk melihat landasan atau navigasi darat. Namun, gangguan sekecil apa pun pada visibilitas atau posisi pesawat bisa menjadi fatal. Apalagi topografi pegunungan membuat prosedur pendaratan lebih menantang.
Pesawat buatan tahun 2000 dengan nomor seri 611 itu dikendalikan oleh pilot Capt. Andy Dahananto.
Lukman menambahkan, pencarian pesawat difokuskan di kawasan Pegunungan Kapur Bantimurung, Desa Leang-leang, Kabupaten Maros dengan dukungan helikopter TNI Angkatan Udara dan tim Basarnas. Operasi SAR terus berlangsung untuk memastikan keselamatan seluruh awak dan penumpang..
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menerima laporan awal mengenai hilangnya kontak pesawat sekitar pukul 12.23 WITA, saat pesawat diarahkan untuk melakukan pendekatan ke landasan pacu RWY 21 Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar.
“Dalam proses pendekatan, pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya, sehingga Air Traffic Control (ATC) memberikan arahan ulang kepada awak pesawat untuk melakukan koreksi posisi,” lanjutnya.
ATC selanjutnya menyampaikan beberapa instruksi lanjutan guna membawa pesawat kembali ke jalur pendaratan yang sesuai dengan prosedur. Setelah penyampaian arahan terakhir oleh ATC, komunikasi dengan pesawat terputus (loss contact).
“Menindaklanjuti kondisi tersebut, ATC mendeklarasikan fase darurat DETRESFA (Distress Phase) sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku,” paparnya.
Baca Juga:Kelompok True Crime Community Tumbuh Organik dan Sporadis Tanpa Tokoh SentralTokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan Berencana
Data yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menyebut jumlah orang di dalam pesawat (Persons on Board/POB) sebanyak 10 orang, terdiri atas 7 awak pesawat dan 3 penumpang. Sebelumnya diberitakan jumlahnya mencapai 11 orang.
