“Selama hampir tiga pekan, aksi protes rakyat di Republik Islam Iran telah berkembang cepat menjadi gejolak nasional, yang mengakibatkan hilangnya banyak nyawa,” kata Martha Ama Akyaa Pobee, Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Afrika pada Departemen Urusan Politik dan Pembangunan Perdamaian serta Operasi Perdamaian, dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB mengenai Iran.
Pobee menyampaikan kembali keprihatinan mendalam Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres atas laporan penggunaan kekuatan berlebihan di Iran, serta menekankan kebutuhan mendesak untuk mencegah jatuhnya korban lebih lanjut.
Pemantau hak asasi manusia melaporkan terjadinya penangkapan massal di Iran terkait gelombang protes saat ini, dengan perkiraan jumlah tahanan melebihi 18.000 orang hingga pertengahan Januari 2026, meskipun PBB belum dapat memverifikasi angka tersebut.
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
Ia menegaskan bahwa situasi di Iran bersifat dinamis dan sangat mengkhawatirkan. Menurutnya, aksi protes masih berlangsung, meski dilaporkan dalam skala yang lebih kecil dibandingkan pekan sebelumnya.
“Kami mencatat dengan keprihatinan berbagai pernyataan publik yang mengisyaratkan kemungkinan serangan militer terhadap Iran,” ujar Pobee, seraya menambahkan bahwa dimensi eksternal tersebut meningkatkan ketidakstabilan dalam situasi yang sudah sangat mudah memanas.
Ia menekankan bahwa segala upaya harus dilakukan untuk mencegah memburuknya keadaan.
Pobee juga mengatakan bahwa Sekretaris Jenderal PBB menegaskan kembali prinsip-prinsip Piagam PBB, termasuk kewajiban negara-negara anggota untuk menyelesaikan sengketa melalui cara damai serta larangan ancaman atau penggunaan kekuatan dalam hubungan internasional.
“Prinsip-prinsip itu bukanlah gagasan abstrak, melainkan landasan perdamaian dan keamanan internasional. Prinsip tersebut tetap relevan hingga saat ini sebagaimana pada saat Perserikatan Bangsa-Bangsa didirikan,” katanya.
Sidang darurat tersebut digelar di tengah meningkatnya ketegangan regional terkait kemungkinan serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.
Menteri Pertahanan Iran Amir Nasirzadeh menegaskan negaranya akan membalas dengan cara yang menghancurkan dan keras terhadap setiap serangan terhadapnya dan tidak akan membiarkan siapa pun mengancamnya.
Baca Juga:Kelompok True Crime Community Tumbuh Organik dan Sporadis Tanpa Tokoh SentralTokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan Berencana
Nasir Zadeh memperingatkan Presiden AS Donald Trump agar tidak mengancam rakyat Iran. “Semua kepentingan AS di mana pun di dunia akan terancam jika Trump melakukan tindakan bodoh dan menyerang kepentingan Iran,” kata dia, dikutip dari Aljazeera, Rabu (14/1/2026).
