PEMERINTAH Kota Salatiga menegaskan komitmennya untuk terus menjadi salah satu kota dengan indeks toleransi terbaik di Indonesia. Komitmen tersebut disampaikan Wali Kota Salatiga saat menghadiri Konferensi Kota Toleran 2025 yang berlangsung di Hotel Swiss Bell Inn, Singkawang, Kalimantan Barat, Minggu (16/11/2025).
“Konferensi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat inisiatif dan kolaborasi antardaerah dalam menjaga keberagaman serta membangun ekosistem toleransi yang berkelanjutan. Selamat Hari Toleransi Nasional 2025,” ujar Wali Kota Salatiga, Robby Hernawan.
Partisipasi aktif Salatiga dalam konferensi nasional ini semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu role model kota toleran di Indonesia, sekaligus memperluas jejaring kolaborasi untuk inovasi kebijakan toleransi di masa mendatang.
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
“Predikat branding di Salatiga itu kan sebagai kota ter-toleran di Indonesia ya, naik turun biasanya kan peringkatnya itu Peringkat dua, satu, empat, tiga namun sekarang kembali menjadi peringkat satu lagi menggeser Singkawang, karena memang potensinya luar biasa,” kata Ketua DPC PAPPRI Kota Salatiga,Valentino T. Haribowo, Jumat (16/1).
“Singkawang malah sekarang di posisi dua. Dari pilar yang ada Pilar Enam Agama itu, Agama Islam, saudara kita Muslim itu kan Kita sudah terlalu banyak event ya. Event Ya seperti hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha, ada Pawai Ta’aruf ketika 1 Muharam, kemudian ada peringatan Hari Santri skala besar-besaran. Saudara kita Kristen Katolik pun Natalan, Paskahan di open air di Lapangan Pancasila, Saudara kita Buddha Hindu juga memperingatinya di Lapangan Pancasila waktu saya masih dinas aktif,” imbuhnya.
Menurut Valentino, pilar yang belum sempat muncul di permukaan, yaitu pilar etnis Tiionghoa, dalam rangka penguatan ekosistem toleransi yang ada, membantu etnis Tionghoa itu agar lebih eksis Untuk berkontribusi dalam penguatan ekosistem toleransi itu.
“Nama eventnya adalah “Salatiga BEDA Festival”, beda dalam pengertian harafiah, ya beda karena etnis Tionghoa itu kan berbeda, sementara kan masih terkonotasi etnis Tionghoa itu kan Kaum Minoritas, nah sekarang kan nggak ada minoritas atau superioritas,” ujar Valentino.
