RIBUAN wisatawan dari berbagai daerah memadati kawasan Telaga Sarangan untuk menyaksikan prosesi adat Labuhan Sarangan yang memukau, Jumat (16/1/2026). Puncak acara ditandai dengan arak-arakan tumpeng raksasa menggunakan speedboat mengelilingi telaga sebelum akhirnya dilarung sebagai simbol rasa syukur.
Bupati Magetan, Nanik Sumantri, menjelaskan bahwa Labuhan Sarangan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan warisan leluhur yang sarat makna. Menurutnya, tradisi ini adalah bentuk penghormatan terhadap alam yang telah memberikan penghidupan bagi masyarakat Magetan.
“Ini adalah wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki, sekaligus bentuk kepedulian kita terhadap kelestarian lingkungan. Sarangan adalah ikon kehidupan masyarakat kami,” ujar Nanik di sela-sela acara.
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
Ia menambahkan, sektor pariwisata merupakan penggerak utama ekonomi daerah. Dengan status Sarangan sebagai destinasi skala nasional hingga internasional, ia berharap event ini mampu mendongkrak angka kunjungan wisatawan secara signifikan.
Kabar gembira juga menyertai pelaksanaan tahun ini. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Magetan, Joko Trihono, mengungkapkan bahwa Labuhan Sarangan telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Kebudayaan.
“Alhamdulillah, setelah melalui proses sidang, tradisi ini sah mendapatkan predikat WBTB karena nilai historisnya yang lahir asli dari Kelurahan Sarangan. Target kami selanjutnya adalah membawa festival ini masuk ke dalam kalender eventnasional,” jelas Joko.
Rangkaian kegiatan sendiri telah berlangsung sejak Kamis (15/1) hingga Jumat (16/1). Guna memfasilitasi antusiasme warga, pihak pemkab memberikan kebijakan bebas retribusi masuk (gratis) pada Jumat pagi mulai pukul 07.00 hingga 12.00 WIB. Tercatat, kunjungan diprediksi menembus angka lebih dari 10.000 orang.
Dyah Ayu (29), salah satu pengunjung asal Kota Madiun, mengaku rutin menghadiri prosesi ini setiap tahun. “Selain ingin melihat prosesi adatnya yang unik, udara sejuk dan kulinernya selalu bikin rindu untuk kembali ke sini,” ungkapnya.
Melalui momentum ini, Pemkab Magetan mengajak generasi muda untuk terus menggali dan mencintai kebudayaan lokal agar daerah tetap memiliki karakter yang kuat dan berdaya saing global.
—Sumber: TIMES INDONESIA
