Sejumlah Personel Disarankan Tinggalkan Pangkalan Udara Militer Amerika Serikat Al Udeid di Qatar, Ada Apa?

Tampilan atas \"Ops Town\" di pangkalan Udara al Udeid di Provinsi Al Rayyan, Qatar. (U.S. National Archives via
Tampilan atas \"Ops Town\" di pangkalan Udara al Udeid di Provinsi Al Rayyan, Qatar. (U.S. National Archives via GetArchive)
0 Komentar

SEJUMLAH personel dilaporkan telah disarankan untuk meninggalkan pangkalan udara militer AS Al Udeid di Qatar pada Rabu malam. Laporan berita tersebut muncul di tengah meningkatnya peringatan dari Amerika Serikat bahwa mereka dapat melakukan intervensi militer untuk mendukung unjuk rasa di Iran.

Al Udeid adalah pangkalan AS terbesar di Timur Tengah yang menampung sekitar 10.000 tentara Amerika. “Ini adalah perubahan postur dan bukan perintah evakuasi,” kata salah satu diplomat kepada Reuters, seraya menambahkan bahwa dia tidak mengetahui alasan spesifik apa yang mendasari tindakan tersebut.

Kementerian Luar Negeri Qatar tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Kontak langsung antara pejabat senior Amerika Serikat dan Iran juga terhenti ketika ketegangan meningkat terkait kemungkinan serangan militer. Jalur komunikasi antara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan utusan khusus AS Steve Witkoff telah ditangguhkan, kata seorang pejabat senior yang tidak disebutkan namanya kepada kantor berita Reuters.

Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv

Laporan ini muncul di tengah meningkatnya ancaman Presiden Donald Trump untuk melakukan intervensi militer ketika Iran melakukan tindakan keras setelah dua minggu demonstrasi mematikan. Teheran berjanji akan membalas pangkalan militer AS di Timur Tengah jika diserang.

Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh berjanji akan menghalau serangan apa pun ke Iran ‘sampai titik darah penghabisan’. Ia mengatakan Iran mempunyai “banyak kejutan” untuk semua musuh yang menyerangnya.

“Jika ancaman ini diubah menjadi tindakan, kami akan membela negara dengan kekuatan penuh dan sampai titik darah penghabisan, dan pertahanan kami akan sangat merugikan mereka,” kata Nasirzadeh pada pertemuan keamanan, menurut Press TV.

Dia juga memperingatkan negara-negara yang memberikan bantuan untuk setiap serangan terhadap Iran bahwa mereka “akan menjadi target yang sah”. Menurut Nasirzadeh, kerusakan yang disebabkan oleh perang 12 hari Israel terhadap Iran pada bulan Juni telah diperbaiki dan “kapasitas produksi militer meningkat”.

Sementara, Kementerian Luar Negeri Iran mengecam sanksi baru AS, dan menggambarkan sanksi tersebut sebagai tindakan ilegal dan dilatarbelakangi oleh apa yang disebutnya sebagai “kebencian yang mengakar” terhadap negara tersebut.

0 Komentar