PENULIS sebagai lulusan Psikologi UKSW, menanggapi berita yang telah ditayangkan delik.news beberapa waku lalu tentang temuan Densus 88 mengenai 70 anak yang terpapar radikalisme di media sosial yang dapat djadikan pertimbangan untuk mengungkap sisi gelap pencarian jati diri remaja.
Pada usia 11-18 tahun, anak-anak berada dalam fase krusial pembentukan identitas. Ketika mereka gagal menemukan makna atau merasa terasing di lingkungan nyata, mereka menjadi sangat rentan terhadap infiltrasi ideologi ekstrem.
Mengapa Mereka Terpapar?
Dari sudut pandang psikologi, fenomena ini didorong oleh dua faktor utama:
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
- Pencarian Makna dan Pengakuan: Komunitas kekerasan menawarkan rasa memiliki (belonging) dan tujuan hidup yang tidak mereka dapatkan di rumah atau sekolah. Grup ini menjadi “rumah kedua” yang memvalidasi perasaan mereka.
- Kompensasi Trauma: Menjadikan “pembuli” sebagai target kekerasan menunjukkan adanya luka batin. Senjata dan atribut militer digunakan sebagai kompensasi atas rasa tidak berdaya yang mereka alami di dunia nyata.
Dari kasus ini dapat disimpulkan bahwa, terbukti radikalisme tidak selalu soal politik, tapi sering kali tentang kesehatan mental yang terabaikan.
Remaja yang merasa tidak didengar akan mencari identitas pada kelompok yang menawarkan kekuatan meskipun lewat jalan kekerasan. Intervensi melalui konseling adalah kunci untuk mengarahkan kembali pencarian makna mereka ke jalur yang positif.
Penulis: Icasia Kleantha Wijaya
