Analisis Makroekonomi : Distribusi Program MBG terhadap Dinamika Inflasi dan Stabilitas Fiskal

Analisis Makroekonomi : Distribusi Program MBG terhadap Dinamika Inflasi dan Stabilitas Fiskal
Kepala Kampus Politeknik LP3I Aris Armunanto, SE. Ak., MM
0 Komentar

Keseimbangan Antara Nutrisi dan Stabilitas

Program Makan Bergizi Gratis merupakan inisiatif transformatif yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas modal manusia Indonesia menuju visi 2045. Namun, skala ekonominya yang masif membawa risiko inflasi dan ketidakstabilan fiskal yang nyata.

Pengaruh program ini terhadap laju inflasi bersifat multidimensional, mencakup tekanan permintaan pada kelompok volatile food, risiko imported inflation melalui kebutuhan protein impor, dan potensi tekanan pada nilai tukar Rupiah akibat pelebaran defisit transaksi berjalan.

Keberhasilan mitigasi inflasi sangat bergantung pada tiga pilar utama :

  • Integrasi Pertanian Lokal : Mengadopsi model Brasil dengan mewajibkan pengadaan lokal secara signifikan untuk mendorong ekspansi penawaran domestik yang sebanding dengan permintaan program.
  • Disiplin Fiskal dan Efisiensi : Menghindari penggunaan dana pendidikan yang berlebihan dan memastikan transparansi operasional SPPG untuk meminimalkan pemborosan.
  • Sinergi Kebijakan Moneter-Fiskal : Koordinasi antara Bank Indonesia dan pemerintah dalam menjaga likuiditas dan ekspektasi inflasi, serta memastikan pembiayaan program tidak mengganggu stabilitas nilai tukar.

Jika dikelola dengan tata kelola yang profesional, berbasis data, dan transparan, program MBG dapat menjadi stimulus ekonomi yang inklusif tanpa mengorbankan stabilitas harga.

Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv

Namun, jika diimplementasikan secara terburu-buru tanpa persiapan rantai pasok yang memadai, program ini berisiko menjadi pemicu inflasi yang justru akan membebani daya beli masyarakat luas, menciptakan paradoks di mana negara memberi makan gratis bagi sebagian orang namun menyebabkan pangan menjadi mahal bagi semua orang.

Masa depan stabilitas ekonomi Indonesia dalam lima tahun ke depan akan sangat ditentukan oleh seberapa baik pemerintah mampu menavigasi dinamika antara ambisi gizi nasional dan realitas stabilitas makroekonomi.

Penulis: Kepala Kampus Politeknik LP3I Aris Armunanto, SE. Ak., MM

0 Komentar