Analisis Makroekonomi : Distribusi Program MBG terhadap Dinamika Inflasi dan Stabilitas Fiskal

Analisis Makroekonomi : Distribusi Program MBG terhadap Dinamika Inflasi dan Stabilitas Fiskal
Kepala Kampus Politeknik LP3I Aris Armunanto, SE. Ak., MM
0 Komentar

Struktur kepemimpinan yang kurang kompeten dalam logistik pangan sipil berisiko menyebabkan pemborosan anggaran (leakage) dan pengadaan yang tidak kompetitif, yang pada akhirnya dapat mendorong harga porsi makanan menjadi lebih mahal dari yang seharusnya.

Transparansi dan pengawasan ketat melalui teknologi menjadi kebutuhan mutlak untuk memastikan setiap Rupiah yang dikeluarkan memberikan nilai gizi yang tepat tanpa membebani pasar.

Kebijakan Moneter dan Sinergi Pengendalian Inflasi

Dalam menghadapi potensi tekanan inflasi dari program MBG, Bank Indonesia (BI) memainkan peran sentral sebagai penjaga stabilitas harga. BI harus menavigasi kebijakan suku bunga di tengah ekspansi fiskal yang agresif.

Respon BI-Rate dan Likuiditas

Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv

Pada Desember 2025, BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate pada level 4,75%. Keputusan ini mencerminkan sikap hati-hati untuk menjaga inflasi tetap dalam sasaran 2,5 ± 1% sambil terus mendukung pertumbuhan ekonomi.

BI memantau dengan cermat dampak dari kenaikan permintaan domestik akibat MBG terhadap inflasi inti dan inflasi harga bergejolak.

Sinergi antara Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menjadi sangat penting dalam mendeteksi lonjakan harga komoditas pangan di tingkat lokal secara dini.

Salah satu risiko makro-finansial adalah terjadinya crowding out effect, di mana kebutuhan pemerintah untuk mendanai MBG melalui penerbitan surat utang negara (SBN) menyerap likuiditas pasar, sehingga menaikkan suku bunga pinjaman bagi sektor swasta.

Hal ini dapat menghambat investasi di sektor-sektor produktif lainnya, yang pada akhirnya membatasi pasokan dan justru memicu inflasi dalam jangka panjang.

Diversifikasi dan Kemandirian Pangan sebagai Mitigasi

Badan Gizi Nasional (BGN) telah menginstruksikan unit-unit SPPG untuk melakukan diversifikasi bahan baku guna mengontrol ketersediaan dan harga. Strategi ini melibatkan :

  • Menggunakan komoditas yang sedang mengalami panen raya atau penurunan harga.
  • Mengurangi penggunaan komoditas yang harganya sedang melonjak tajam.
  • Mendorong pemerintah daerah untuk memobilisasi warganya dalam bertani dan beternak secara mandiri guna memenuhi kebutuhan dapur MBG lokal.

Langkah-langkah ini bertujuan untuk mengubah kurva penawaran pangan menjadi lebih elastis di tingkat daerah, sehingga guncangan permintaan dari program MBG tidak langsung ditransformasikan menjadi kenaikan harga yang permanen.

0 Komentar