Efek pengganda (multiplier effect) dari belanja pangan ini diharapkan dapat membangkitkan ekonomi daerah melalui pemberdayaan UMKM dan koperasi. Namun, jika peningkatan pendapatan petani dan pedagang kecil terserap oleh kenaikan biaya hidup akibat inflasi pangan, maka manfaat ekonomi bersih dari program ini akan berkurang.
Analisis Sektoral dan Dampak terhadap PDB
Berdasarkan analisis Input-Output (IO), program MBG memberikan guncangan output yang berbeda-beda pada setiap sektor produksi di Indonesia. Injeksi anggaran ini memicu aktivitas ekonomi di sektor-sektor yang terkait langsung dengan penyediaan pangan dan jasa pendukungnya.
Akibat realokasi anggaran dari fungsi pendidikan
Penelitian menunjukkan bahwa jika program MBG dibiayai bukan dari dana pendidikan, dampak terhadap PDB bisa mencapai 0,89% atau setara Rp108,48 triliun karena adanya tambahan belanja netto dalam ekonomi. Sebaliknya, jika hanya mengandalkan realokasi dana pendidikan, peningkatan PDB hanya diproyeksikan sebesar 0,06% atau Rp7,21 triliun, yang dianggap tidak sebanding dengan biaya peluang yang hilang di sektor modal manusia.
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
Skenario pertumbuhan ekonomi 7% yang dicanangkan pemerintah sangat bergantung pada kemampuan program ini untuk bertindak sebagai katalisator investasi, bukan sekadar instrumen konsumsi rutin.
Risiko Imported Inflation dan Stabilitas Rupiah
Salah satu tantangan paling kritis dalam program MBG adalah pemenuhan kebutuhan protein susu dan daging sapi. Mengingat kapasitas produksi susu domestik yang masih sangat terbatas, Indonesia berada dalam posisi rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global dan nilai tukar.
Ketergantungan Impor Sapi dan Susu
Rencana pemerintah untuk mengimpor 1,3 juta ekor sapi indukan melalui sekitar 40 perusahaan adalah upaya jangka panjang untuk mencapai kemandirian protein. Namun, dalam jangka pendek, proses ini membutuhkan ketersediaan devisa yang besar.
Peningkatan permintaan terhadap Dolar AS untuk membiayai impor sapi dan bahan pangan lainnya dapat menekan nilai tukar Rupiah. Jika Rupiah melemah, harga barang-barang impor lainnya—termasuk bahan bakar dan input industri—akan naik, memicu cost-push inflation atau inflasi yang didorong oleh biaya produksi.
Berdasarkan data Juli 2024, sektor keuangan Indonesia telah mengalami tekanan akibat ketidakpastian kebijakan The Fed dan dinamika geopolitik global. Dalam situasi nilai tukar yang volatil, setiap peningkatan belanja impor pemerintah untuk program MBG akan memperburuk defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit) dan meningkatkan risiko inflasi yang berasal dari luar negeri (imported inflation).
