Analisis Makroekonomi : Distribusi Program MBG terhadap Dinamika Inflasi dan Stabilitas Fiskal

Analisis Makroekonomi : Distribusi Program MBG terhadap Dinamika Inflasi dan Stabilitas Fiskal
Kepala Kampus Politeknik LP3I Aris Armunanto, SE. Ak., MM
0 Komentar

Tekanan fiskal ini semakin diperumit oleh fakta bahwa dana Rp71 triliun tersebut diproyeksikan hanya cukup untuk menjalankan program hingga pertengahan tahun 2025, sehingga membutuhkan tambahan dana sekitar Rp100 triliun untuk menyelesaikan siklus anggaran tahunan.

Dinamika defisit APBN pun terancam melampaui batas aman 3% dari PDB jika pertumbuhan ekonomi tidak mampu mengimbangi lonjakan belanja ini.

Teori Transmisi Inflasi : Permintaan Agregat dan Kelompok Volatile Food

Pengaruh program MBG terhadap inflasi dapat dianalisis melalui kerangka demand-pull inflation. Ketika pemerintah menyalurkan dana langsung ke ribuan unit SPPG di seluruh Indonesia untuk membeli bahan pangan lokal, terjadi peningkatan permintaan yang sangat cepat terhadap komoditas tertentu seperti telur, daging ayam, sayuran, dan susu.

Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv

Dalam hukum permintaan dan penawaran, jika peningkatan permintaan (Demand) tidak disertai dengan ekspansi penawaran (Supply) yang elastis, maka harga (Price) akan bergerak naik.

Komponen inflasi yang paling terdampak adalah volatile food atau harga pangan bergejolak. Kelompok ini memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan musiman dan guncangan permintaan jangka pendek. Pada akhir 2024 dan awal 2025, inflasi volatile food terjaga pada kisaran 3-5%, namun kehadiran program MBG yang masif memberikan risiko tekanan tambahan yang bersifat struktural.

Bank Indonesia (BI) di tingkat daerah, telah memproyeksikan adanya dampak inflasi dari MBG, meskipun dalam skala yang diupayakan tetap terkendali.

Risiko inflasi ini tidak hanya bersifat nasional tetapi juga asimetris di tingkat daerah, di mana wilayah dengan infrastruktur logistik yang buruk akan mengalami lonjakan harga yang lebih tinggi dibandingkan wilayah dengan akses pangan yang lancar.

Dinamika Harga Komoditas Spesifik

Kebutuhan harian yang bersifat repetitif dari program MBG menciptakan pola konsumsi baru di pasar. Beberapa komoditas telah menunjukkan tren kenaikan harga yang didorong oleh ekspektasi dan realitas permintaan dari dapur-dapur MBG.

  • Sayuran dan Produk Hortikultura : Di beberapa pasar di Jawa Barat, harga wortel dilaporkan telah mencapai Rp23.000 hingga Rp25.000 per kilogram, jauh di atas harga normal. Kenaikan ini dipicu oleh kebutuhan masif unit SPPG yang menyerap pasokan lokal dalam jumlah besar secara konsisten.
  • Protein Hewani: Meskipun Indonesia memiliki tingkat swasembada yang baik pada telur dan daging ayam, lonjakan permintaan harian untuk jutaan porsi makan gratis tetap memberikan tekanan pada harga eceran. Pemerintah berupaya memborong pasokan ini melalui kemitraan dengan asosiasi peternakan, namun risiko crowding outterhadap ketersediaan bagi masyarakat umum tetap ada.
  • Beras dan Karbohidrat: Pengadaan beras cenderung lebih stabil karena keterlibatan Bulog, namun pergeseran pola konsumsi siswa dari bekal rumah ke makanan sekolah dapat mengubah dinamika permintaan beras di tingkat ritel.
0 Komentar