Jejak Garda Revolusi Iran Dilatih Saat Pengasingan Ayatollah Ruhollah Khomeini di Neauphle-le-Châte

Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). (Iranian Presidency / AFP)
Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). (Iranian Presidency / AFP)
0 Komentar

Selain peran militer strategis, seperti memajukan program nuklir dan industri rudal Iran, tanggung jawab keamanan yang mendesak dan sensitif, seperti menekan protes domestik, juga diberikan kepada IRGC.

Ali Khamenei, pemimpin tertinggi, memerintahkan Garda Revolusi untuk mengambil alih penindakan di tengah kekhawatiran akan pembelotan oleh angkatan bersenjata dan polisi reguler. Pengerahan IRGC adalah jaminan utama rezim.

Ini kekuatan militer yang tidak dapat membelot karena kelangsungan hidupnya sepenuhnya bergantung pada kelangsungan hidup Republik Islam. Tidak seperti tentara Shah pada 1979, Garda Revolusi adalah revolusioner profesional tanpa masa depan di Iran pasca-rezim.

Baca Juga:Dokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel AvivKelompok True Crime Community Tumbuh Organik dan Sporadis Tanpa Tokoh Sentral

Pertumbuhannya sangat cepat. Pada 17 September 1985, ketika IRGC berkembang menjadi badan militer yang serius selama perang dengan Irak, mereka dilengkapi dengan pasukan darat, udara, dan laut melalui perintah dari Ayatollah Khomeini.

“Mereka menguasai negara dan semua yang hidup di wilayah ini,” kata seorang profesor ilmu politik di sebuah universitas dekat Teheran kepada The Telegraph.

IRGC, yang dianggap sebagai tentara ideologis Republik Islam Iran, muncul sebagai kekuatan militer dominan di negara itu setelah keberhasilannya dalam memukul mundur serangan tentara Irak.

Mereka memperoleh pengaruh yang luas dalam peristiwa ekonomi dan sosial tahun-tahun berikutnya, menunjukkan pentingnya peran mereka dalam pengambilan keputusan nasional melalui mobilisasi sumber daya yang mereka miliki.

“Mereka mencoba berpura-pura seperti tentara klasik selama perang, bertentangan dengan konsep aslinya, setelah memukul mundur tentara Irak, mereka berperang selama enam setengah tahun tanpa alasan,” kata Sazegara.

Dengan berakhirnya perang Iran-Irak selama delapan tahun pada 1988, tampaknya salah satu misi terpenting Garda Revolusi Iran (IRGC) berakhir.

Perubahan tersebut, ditambah dengan kematian Ayatollah Khomeini, secara signifikan memengaruhi suasana di dalam Garda Revolusi dan mereka mulai mencari sumber daya tambahan.

Baca Juga:Tokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan BerencanaPemprov Jawa Barat Renovasi Gerbang Gedung Sate Berbentuk Candi Anggaran Capai Rp3,9 Miliar

Akibatnya, diputuskan untuk melibatkan IRGC dalam upaya pembangunan dan konstruksi pascaperang negara. Bersamaan dengan aktivitas ekonominya, kekuatannya tumbuh setiap hari.

Akbar Hashemi Rafsanjani, presiden saat itu, mengalokasikan dana yang besar untuk memperkuat kemampuan militer guna menenangkan IRGC dan menjauhkan mereka dari campur tangan politik.

0 Komentar