ANGGOTA pertama kelompok yang nanti disebut Garda Revolusi Iran dilatih dalam desa terpencil di luar Paris, Prancis.
Orang-orang yang dekat dengan pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang berada di pengasingan di Neauphle-le-Château, secara diam-diam mulai merekrut para revolusioner Iran di Barat untuk membentuk tentara rakyat.
Salah satu pendiri kelompok tersebut, Mohsen Sazegara, mengatakan kepada The Telegraph bahwa tujuan pada 1978 yaitu mengumpulkan loyalis yang siap menghadapi rezim Shah secara langsung di Iran.
Baca Juga:Dokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel AvivKelompok True Crime Community Tumbuh Organik dan Sporadis Tanpa Tokoh Sentral
Para rekrutan pertama mempelajari teori perang gerilya sebelum dikirim ke Beirut dan Damaskus untuk pelatihan militer. Di sana, mereka mempelajari pertempuran, sabotase, cara membentuk kelompok kecil pasukan gerilya dan operasi rahasia, mempersiapkan diri untuk perjuangan panjang melawan rezim Mohammad Reza Shah di Teheran.
Prinsip-prinsip pelatihan tersebut berasal dari mempelajari pengalaman beberapa pasukan gerilya, termasuk Tentara Pembebasan Nasional Irlandia. Namun mereka tidak pernah mendapatkan kesempatan itu.
Ketika Mohammad Reza Shah melarikan diri dari Iran pada 16 Januari 1979 dan pemerintahannya akhirnya runtuh pada 11 Februari, anggota awal Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tidak berada di negara itu.
Para revolusioner yang menggulingkan Shah bukanlah kekuatan militer yang terorganisasi. Mereka ialah jutaan warga Iran biasa–mahasiswa, pekerja, ulama, pedagang pasar, kaum kiri sekuler dan liberal–yang bersatu hanya dalam penentangan mereka terhadap monarki.
Seperti saat ini, kerusuhan dimulai dengan demonstrasi besar-besaran yang melumpuhkan kota-kota Iran. Pada Januari 1979, jutaan orang turun ke jalan. Pasukan keamanan Shah, meskipun melakukan represi brutal, tidak dapat menekan protes sebesar itu.
Kemudian militer Shah sendiri terpecah. Tentara–banyak dari keluarga kurang mampu yang bersimpati kepada para demonstran–menolak perintah untuk menembak.
“Mereka (para rekrutan) tiba di Teheran setelah Revolusi Islam,” kata Sazegara kepada The Telegraph.
Baca Juga:Tokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan BerencanaPemprov Jawa Barat Renovasi Gerbang Gedung Sate Berbentuk Candi Anggaran Capai Rp3,9 Miliar
“Kami tidak pernah membayangkan revolusi akan berhasil dalam waktu sekitar 100 hari,” katanya. “Kami memperkirakan perang selama tujuh tahun melawan tentara Shah dan kemudian pasukan Amerika, karena kami tidak percaya AS akan meninggalkan Shah dengan mudah.”
