UEA secara resmi menormalisasi hubungan dengan Israel pada 2020, ketika Abraham Accord yang difasilitasi AS ditandatangani. Washington dan Tel Aviv terus mendorong Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya untuk bergabung dalam perjanjian ini.
Pangkalan Militer Uni Emirat Arab di Yaman dan Afrika Timur
Sejak perang yang dipimpin Saudi di Yaman dimulai pada 2015, militer UEA menduduki berbagai pelabuhan, pulau, dan jalur air Yaman — dilaksanakan dengan koordinasi Israel. UEA juga telah membangun pangkalan militer di sepanjang pesisir Somalia.
Dukungan Uni Emirat Arab kepada Israel
Sejak genosida di Gaza dimulai, Abu Dhabi — yang kini menjadi mitra dagang Arab terbesar Israel — terus menjalin hubungan strategis militer dengan Tel Aviv.
Baca Juga:Kelompok True Crime Community Tumbuh Organik dan Sporadis Tanpa Tokoh SentralTokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan Berencana
Pada 2024, Balkan Insight mengungkap bahwa perusahaan yang terkait UEA, Yugoimport-SDPR, mengekspor senjata senilai 17,1 juta dolar AS ke Israel melalui pesawat militer. Senjata-senjata ini terlibat langsung dalam perang genosida di Gaza.
Perusahaan-perusahaan Emirat juga telah menandatangani kesepakatan dengan XM Cyber — yang didirikan bersama oleh mantan kepala Mossad — untuk mengamankan infrastruktur energi nasional. XM Cyber bekerja sama dengan Rafael dan perusahaan militer elit Israel lainnya sebagai bagian dari konsorsium yang menargetkan pasar sensitif Teluk, termasuk minyak, energi, dan data.
Selain itu, raksasa pertahanan milik negara UEA, EDGE, memegang saham di produsen senjata Israel terkemuka, termasuk Rafael dan Israel Aerospace Industries (IAI).
Pada September 2020, Bahrain dan UEA menandatangani perjanjian normalisasi diplomatik dengan Israel. Perjanjian tersebut tercapai berkat mediasi dan dukungan Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. Kesepakatan normalisasi tersebut dikenal dengan nama Abraham Accords.
Selain UEA dan Bahrain, AS pun membantu Israel melakukan normalisasi diplomatik dengan Sudan serta Maroko. Washington menghapus Sudan dari daftar negara pendukung terorisme sebagai aksi timbal balik atas kesediaannya membuka hubungan resmi dengan Tel Aviv. Kemudian terkait Maroko, sebagai balasan, AS mengakui klaim negara tersebut atas wilayah Sahara Barat yang dipersengketakan.
Meski menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, Uni Emirat Arab (UEA) memperingatkan Israel agar tidak melakukan aneksasi apapun di Tepi Barat. UEA menegaskan, tindakan semacam itu bakal menjadi garis merah dan akan sangat merusak perjanjian normalisasi kedua negara yang dikenal sebagai Abraham Accords.
