Dari Pengasingan Putra Mahkota Monarki Iran Ini Minta Warga Iran 'Revolusi Nasional', Siapa Reza Pahlevi?

Reza Pahlevi
Reza Pahlevi
0 Komentar

Kala itu, Pahlavi membayangkan pemerintahan demokratis yang dikelola pemimpin terpilih. Meskipun, ia tak meninggalkan kemungkinan menjadikan Iran sebagai monarki konstitusional dengan raja dan perdana menteri.

Kini, di tengah situasi karut marut yang meluas di Iran, Pahlavi hilir mudik di media massa dan media sosial sebagai salah satu corong pendukung demonstrasi. Ia bahkan membuat pernyataan publik bahwa ia siap kembali ke Iran setelah pemerintahan teokratis Khomeini runtuh.

“Saya juga bersiap untuk kembali ke tanah air, sehingga ketika revolusi nasional kita menang, saya bisa berada di samping Anda,” tulis pernyataan Pahlavi untuk masyarakat Iran.

Baca Juga:Kelompok True Crime Community Tumbuh Organik dan Sporadis Tanpa Tokoh SentralTokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan Berencana

Akan tetapi, meskipun popularitas Pahlavi terlihat terdongkrak selama aksi protes di jalan raya Iran, tak sedikit yang melihat Pahlavi secara skeptis.

Hal itu terjadi lantaran kedekatan Pahlavi dengan AS dan Israel. Pada 2023 lalu, Pahlavi melakukan pertemuan dengan Benjamin Netanyahu dalam kunjungannya ke Israel.

Usai berjumpa perdana menteri Israel itu, Pahlavi menyebut pertemuan itu dalam akun media sosialnya sebagai cara untuk “menyebar pesan persahabatan dari orang Iran … dan memberikan penghormatan kepada para korban Holocaust pada hari Yom HaShoah”.

Kedekatan ini, dipandang banyak pihak, berpotensi jadi batu pengganjal Pahlevi untuk kembali terlibat dalam politik dalam negeri Iran yang punya sentimen negatif ke Israel.

Selain itu, pakar politik Iran, Alireza Nader, menilai bahwa aktivitas politik Pahlevi lebih terlihat sebagai pemecah belah gerakan perlawanan. Sebagaimana dikutip Al Jazeera, kritikus tersebut menuduh lingkaran Pahlavi telah menyerang sosok oposisi populer lain — seperti pemenang Hadiah Nobel, Narges Mohammadi — lalu menyebut mereka “golongan kiri” dan “teroris”.

Hanya saja, dengan pembatasan akses internet di Iran oleh otoritas di sana, Pahlavi kini mendapatkan momentum untuk terlihat jadi yang terlantang menyuarakan perlawanan, setidaknya bagi komunitas internasional.

0 Komentar