Dari Pengasingan Putra Mahkota Monarki Iran Ini Minta Warga Iran 'Revolusi Nasional', Siapa Reza Pahlevi?

Reza Pahlevi
Reza Pahlevi
0 Komentar

Terlahir sebagai anak laki-laki seorang Shah, Pahlavi dibesarkan sejak kecil sebagai penerus ayahnya. Ia mendapatkan gelar putra mahkota Iran sejak usia 7 tahun.

Akan tetapi, takhta yang diwariskan kepadanya itu tak sempat ia rasakan. Ketika Pahlavi remaja, monarki yang dipimpin ayahnya ramai ditentang rakyatnya sendiri karena dinilai otoriter dan represif.

Puncaknya, pada 1979, pecah Revolusi Iran yang dipimpin oleh Ruhollah Khomeini. Ayah Pahlavi lalu digulingkan dan struktur negara Iran berubah dari monarki jadi Republik Islam Iran hingga kini.

Baca Juga:Kelompok True Crime Community Tumbuh Organik dan Sporadis Tanpa Tokoh SentralTokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan Berencana

Ketika revolusi terjadi, Pahlavi berusia 17 tahun dan sedang menempuh pelatihan jadi pilot pesawat tempur di Pangkalan Angkatan Udara Reese di Texas, AS. Runtuhnya sistem pemerintahan monarki membuatnya tak bisa kembali ke Iran.

Oleh karenanya, ketika ia selesai menempuh pelatihan jadi pilot, Pahlavi melanjutkan pendidikan ilmu politik di University of Southern California.

Meskipun tempat kelahirannya sudah sepenuhnya berubah, Pahlavi sejak muda ingin kembali ke Iran. Ia sempat mengajukan diri untuk bertempur untuk negaranya dalam perang Iran-Irak pada dekade 80-an, namun ditolak otoritas di Teheran.

Sejak itu, Pahlavi kemudian tinggal menetap di AS. Di sana, ia hidup bersama istrinya, Yasmine Pahlavi, dan tiga anak perempuan mereka.

Akan tetapi, Pahlavi tak lantas diam di pengasingan. Selama lebih dari 40 tahun, Pahlavi rajin mempromosikan ide referendum dan perubahan kekuasaan kepada masyarakat Iran.

Ia juga rajin mempromosikan demokrasi sebagai ganti sistem teokrasi Iran yang berlangsung kini. Dalam perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni lalu, Pahlavi juga menawarkan diri sebagai pemimpin sementara Iran jika otoritas teokrasi runtuh.

“Saya hadir untuk menyerahkan diri kepada sesama warga saya untuk memimpin mereka menuju jalur perdamaian dan transisi demokratis,” tuturnya dalam konferensi pers di Prancis.

Baca Juga:Pemprov Jawa Barat Renovasi Gerbang Gedung Sate Berbentuk Candi Anggaran Capai Rp3,9 MiliarKetika Manusia Bertanya dan Mengugat, Jokowi Sudah Menjawabnya

Dalam sebuah konferensi pers, Pahlavi menyebut bahwa ia mengaku tak mencari kekuasaan politik melalui pernyataan itu. Ia menyebut bahwa ia hanya menginginkan Iran bertransisi jadi negara demokratis dengan prinsip “integritas wilayah, kebebasan individu, dan kesetaraan warga negara, serta pemisahan agama dan negara”.

0 Komentar