Pemimpin oposisi Iran, Reza Pahlavi, meminta warga Iran terus berunjuk rasa dan merebut kota-kota di negara tersebut.
Dalam video yang diambil di Amerika Serikat (AS), Pahlavi menyatakan rakyat Iran kini harus mulai bersiap untuk merebut pusat-pusat kota. Ia berujar aksi warga sekarang bukan lagi sekadar turun ke jalan, melainkan untuk meraih kemenangan atas “revolusi nasional”.
Pada Senin (12/1), Pahlavi mengunggah video lain yang menyerukan aparat keamanan untuk bergabung dengan rakyat melawan rezim Ayatollah Ali Khamenei. Jika tidak, mereka akan jadi “target yang sah”.
Baca Juga:Kelompok True Crime Community Tumbuh Organik dan Sporadis Tanpa Tokoh SentralTokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan Berencana
Pahlavi juga mendesak semua kedutaan besar Iran mengganti bendera pasca Revolusi Iran ke bendera sebelumnya. Ia menegaskan “kemerdekaan Iran sudah dekat” dan “bantuan internasional akan segera tiba.”
Siapa Pahlavi sebenarnya?
Sosok Reza Pahlavi, sebagai putra mahkota dari monarki Iran yang runtuh pada 1979, kini banyak disorot di tengah merebaknya aksi unjuk rasa masyarakat Iranselama dua minggu terakhir. Simak profilnya berikut ini.
Reza Pahlavi (65) merupakan anak dari Shah Iran terakhir sebelum monarki dijatuhkan dalam Revolusi 1979. Selama ini, Pahlavi tinggal di pengasingan di Amerika Serikat (AS). Dari jauh, ia berulang kali mengindikasikan niatnya untuk kembali ke Iran dengan menyerukan revolusi damai lewat pemungutan suara.
Akan tetapi, di tengah gelombang unjuk rasa Iran yang berkobar sejak 28 Desember 2025 lalu, Pahlavi secara aktif mengarahkan massa aksi untuk merebut kota-kota strategis dari pengasingannya.
“Tujuan kita tak lagi turun ke jalan,” tulis Pahlavi melalui akun X pribadinya, Sabtu (10/1/2026). “Tujuan kita adalah bersiap merebut pusat kota dan mempertahankannya.”
Unjuk rasa masyarakat sipil yang kini terjadi di Iran sendiri telah menumpahkan darah. Seturut The Guardian, Kantor Berita HAM Iran (HRANA) menyebut 538 orang telah tewas dalam demonstrasi, 490 di antaranya adalah pengunjuk rasa.
Estimasi korban jiwa dalam bentrokan unjuk rasa di Iran masih simpang siur seiring pembatasan akses internet di sana. Organisasi HAM Iran di Norwegia menyatakan bahwa setidaknya 192 pengunjuk rasa tewas.
Baca Juga:Pemprov Jawa Barat Renovasi Gerbang Gedung Sate Berbentuk Candi Anggaran Capai Rp3,9 MiliarKetika Manusia Bertanya dan Mengugat, Jokowi Sudah Menjawabnya
Reza Pahlavi lahir di Teheran pada 31 Oktober 1960. Ia merupakan putra tertua dari Mohammad Reza Shah Pahlavi yang kala itu menjabat sebagai pemimpin monarki Iran.
