MENTERI Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengaku memiliki rekaman distribusi senjata yang disalurkan kepada para demonstran dalam unjuk rasa berdarah yang pecah di 92 kota di negaranya.
Dalam pernyataannya kepada para diplomat asing di Teheran pada Senin 12 Januari dikutip dari Al Jazeera, Araghchi bilang pihak berwenang akan segera merilis bukti tersebut, termasuk pengakuan para perusuh yang ditahan.
Di satu sisi, pihak berwenang di Iran terus “mengikuti dengan cermat” aksi massa anti-pemerintah yang masih berlangsung di jalanan.
Baca Juga:Kelompok True Crime Community Tumbuh Organik dan Sporadis Tanpa Tokoh SentralTokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan Berencana
Menurutnya, kekerasan dalam aksi massa di Iran per hari ini telah melandai setelah meningkat selama akhir pekan kemarin.
Selama dua pekan terakhir, Iran telah diguncang gelombang demonstrasi. Aksi massa tersebut awalnya dipicu protes masyarakat Iran terhadap meningkatnya biaya hidup di dalam negeri kemudian berkembang menjadi kritik keras sistem teokrasi yang berlaku sejak revolusi 1979.
Masyarakat di Iran kemudian tak bisa mengakses internet. Namun, sejumlah kabar terkait demonstrasi tetap menyebar keluar dari Iran dengan menunjukkan demonstrasi besar-besaran selama tiga malam terakhir.
Araghchi menegaskan, demonstrasi di Iran menjadi berdarah “dipicu dan didorong” oleh unsur-unsur asing. Saat ini, lanjut dia, pasukan keamanan Iran terus mengusut dan “memburu” mereka yang bertanggung jawab.
Kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan pada Minggu 12 Januari, sebanyak 109 personel keamanan Iran tewas selama demonstrasi berdarah tersebut.
Pihak berwenang Iran belum mengkonfirmasi jumlah demonstran yang tewas dalam aksi massa itu. Namun, aktivis oposisi yang berbasis di luar negeri mengatakan ratusan demonstran telah tewas.
Pemerintah Iran telah menyatakan tiga hari masa berkabung nasional untuk para “martir” yang tewas selama aksi protes itu, termasuk anggota pasukan keamanan.
