Kementerian Luar Negeri Indonesia Angkat Bicara Soal Kritik Ketua FPCI, Dino Patti Djalal

Tangkapan layar YouTube FPCI
Tangkapan layar YouTube FPCI
0 Komentar

KEMENTERIAN Luar Negeri (Kemlu) RI buka suara perihal kritik Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal. Dino sempat mengatakan pernyataan resmi Kemlu terkait penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS), “sangat standar”.

Keenganan menyebut AS dalam pernyataan jadi sorotan utamanya.

Juru Bicara (Jubir) Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Yvonne Mewengkang mengatakan, Kemlu tidak akan fokus pada retorika, yang berpotensi untuk memperkeruh situasi di Venezuela. Kemlu, disebutnya, akan berfokus untuk mendorong penghormatan hukum internasional dan prinsip universal Piagam Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Indonesia memilih menyampaikan sikap berdasarkan penghormatan pada hukum internasional, prinsip universal Piagam PBB, dan hukum humaniter internasional, bukan pada retorika yang dapat memperkeruh situasi, sambil kita terus mendorong upaya-upaya deeskalasi, dialog dan perlindungan warga sipil,” kata Yvonne dalam konferensi pers yang digelar di kantor Kemlu, Kamis (8/1/2026).

Baca Juga:Kelompok True Crime Community Tumbuh Organik dan Sporadis Tanpa Tokoh SentralTokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan Berencana

Ia pun menegaskan bahwa Indonesia melalui Kemlu, telah menyampaikan rasa prihatinnya terhadap segala tindakan yang melibatkan ancaman atau penggunaan kekerasan, saat AS menculik Presiden Maduro pada Sabtu (3/1/2026) lalu.

“Ini yang sudah disampaikan di pernyataan resmi pemerintah Indonesia, karena berisiko menciptakan preseden yang berbahaya dan mengganggu stabilitas,” tegasnya.

Sebelumnya, Dino Patti Djalal mengaku heran saat membaca keterangan resmi Kemlu RI pascapenculikan Presiden Maduro oleh AS. Baginya sikap yang diambil cenderung takut mengkritik pelaku pelanggaran internasional.

“Saya heran membaca pernyataan @Kemlu_RI re Venezuela yang sangat standar dan sama sekali tidak menyebut Amerika Serikat. Sejak kapan kita sungkan/takut mengkritik kawan yang lakukan pelanggaran hukum internasional?” tulis Dino dalam akun X pribadinya pada Senin (5/1/2026).

Dino juga mempertanyakan mengapa Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono tidak bersuara mengenai dinamika situasi di Venezuela tersebut, terutama di saat dunia menunggu pandangan Indonesia sebagai aktor Global South penting.

“Ini momen Indonesia perlu percaya diri menunjukkan sikap, sama ketika kita dulu menentang invasi AS terhadap Irak. Bebas aktif itu artinya BERANI berpendirian,” tulisnya.

0 Komentar