Dampak Temporal dan Struktural Program MBG atas Ekosistem Ekonomi Mikro Kantin dan Pedagang Kecil di Sekolah

Dampak Temporal dan Struktural Program MBG atas Ekosistem Ekonomi Mikro Kantin dan Pedagang Kecil di Sekolah
Kepala Kampus Politeknik LP3I Aris Armunanto, SE. Ak., MM
0 Komentar

Kondisi ini menunjukkan bahwa ketidakmampuan birokrasi dalam menjaga presisi jadwal distribusi secara langsung berkontribusi pada kegagalan pencapaian target kesehatan nasional.

Dinamika Perilaku Konsumen Siswa dan Penghematan Rumah Tangga

Secara makroekonomi, Program Makan Bergizi Gratis memberikan dampak positif berupa penghematan pengeluaran rumah tangga. Orang tua siswa dapat menghemat antara Rp300.000 hingga Rp500.000 per anak per bulan, yang kemudian dapat dialihkan untuk biaya pendidikan tambahan atau kebutuhan kesehatan lainnya. Namun, penghematan ini menciptakan pergeseran perilaku jajan yang signifikan.

Siswa yang biasanya membawa uang saku sebesar Rp10.000 hingga Rp20.000 per hari kini cenderung mengalokasikan uang tersebut untuk produk lain atau menyimpannya sebagai tabungan. Hal ini mengakibatkan :

Baca Juga:Kelompok True Crime Community Tumbuh Organik dan Sporadis Tanpa Tokoh SentralTokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan Berencana

  • Penurunan Penjualan Jajanan Tradisional : Pedagang pentol, siomay, dan gorengan di sekitar sekolah melaporkan penurunan pembeli yang drastis karena siswa sudah merasa kenyang dengan porsi MBG yang cukup besar.
  • Perubahan Struktur Menu Kantin : Beberapa pedagang mulai berhenti menjual nasi dan beralih fokus pada minuman dingin atau es, karena jenis produk ini masih diminati oleh siswa sebagai pelengkap makanan MBG.
  • Loyalitas Konsumen Berbasis Rasa : Banyak siswa mengeluhkan rasa makanan MBG yang dianggap hambar atau menunya tidak sesuai selera, sehingga mereka tetap mencari jajanan kantin yang lebih “berasa” meskipun harus membayar.

Hambatan Logistik dan Tantangan Operasional di Lapangan

Kegagalan menjaga jadwal distribusi seringkali berakar pada masalah infrastruktur yang sistemik. Di kota-kota besar seperti Jakarta, kemacetan lalu lintas pada jam-jam sibuk pagi (07.00-08.30) dan siang hari menjadi penghalang utama bagi kendaraan pengantar MBG untuk mencapai sekolah tepat waktu.

Sementara itu, di daerah terpencil, keterbatasan akses jalan dan sarana transportasi menjadi kendala utama.

Hambatan Distribusi MBG

Keterlibatan tenaga kependidikan dalam proses distribusi internal di sekolah (dari gerbang sekolah ke ruang kelas) juga menjadi beban operasional tambahan. Guru dan siswa yang bertugas piket distribusi kehilangan waktu belajar atau mengajar hanya untuk menata ribuan kotak makanan, terutama saat makanan datang terlambat dan menumpuk pada jam-jam kritis.

0 Komentar