Penjadwalan ini berimplikasi pada kapasitas produksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Untuk memenuhi target 08.00 pagi, proses pengolahan bahan pangan di dapur-dapur pusat harus dimulai sejak dini hari, yang seringkali menjadi tantangan bagi SPPG baru dengan keterbatasan sumber daya manusia dan infrastruktur.
Ketika terjadi deviasi waktu, misalnya makanan untuk kelas 1 SD baru tiba pukul 09.30, maka fungsi “sarapan” telah hilang, dan siswa seringkali sudah terlanjur membeli jajanan di kantin karena rasa lapar yang tidak tertahankan.
Dampak Penurunan Omzet Pedagang Kecil
Program MBG secara fundamental mengubah struktur permintaan di pasar sekolah dari sistem pasar bebas yang kompetitif menjadi sistem distribusi terencana oleh negara. Sebagian besar pedagang kantin mengandalkan penjualan “makanan berat” (seperti nasi uduk, bakso, atau mie ayam) sebagai sumber pendapatan utama.
Baca Juga:Kelompok True Crime Community Tumbuh Organik dan Sporadis Tanpa Tokoh SentralTokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan Berencana
Dengan hadirnya makanan gratis yang memenuhi sepertiga kebutuhan kalori harian siswa, produk pedagang kantin beralih fungsi dari kebutuhan pokok menjadi kebutuhan sekunder atau tersier, yang mengakibatkan erosi pendapatan yang drastis.
Analisis Penurunan Pendapatan Berdasarkan Wilayah dan Jenis Usah
Fenomena ini dijelaskan melalui teori konflik Max Weber, di mana kebijakan publik yang bersifat birokratis seringkali mengabaikan pelaku lokal (pedagang kantin) dalam proses perumusan keputusan, sehingga menciptakan ketegangan antara negara dan ekonomi rakyat.
Pedagang seperti di Tulungagung atau di Banjar melaporkan bahwa dagangan mereka seringkali tidak laku sama sekali karena siswa sudah merasa kenyang dengan kotak makanan MBG yang dibagikan tepat waktu. Sebagai contoh warung atau kantin SMP di Jawa Timur, misalnya, dari enam lapak kantin yang biasanya beroperasi penuh, kini empat di antaranya terpaksa pulang lebih awal karena sepinya pembeli.
Dampak MBG yang Tidak Sesuai Jadwal
Ketidakteraturan jadwal distribusi menjadi variabel yang paling merusak stabilitas ekonomi pedagang kecil. Jika program MBG berjalan dengan jadwal yang kaku dan dapat diprediksi, pedagang masih memiliki peluang untuk melakukan adaptasi strategi (seperti beralih menjual minuman atau produk yang tidak disubsidi). Namun, ketidakpastian jadwal menciptakan anomali pasar yang merugikan semua pihak.
