IMPLEMENTASI Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menandai pergeseran paradigma dalam kebijakan kesejahteraan sosial dan kesehatan masyarakat di Indonesia.
Dengan alokasi anggaran yang mencapai Rp71 triliun untuk tahun anggaran 2025, program ini tidak hanya menargetkan perbaikan status gizi nasional dan penurunan angka stunting secara drastis, tetapi juga dirancang untuk menjadi stimulus ekonomi yang melibatkan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Namun, di balik ambisi besar untuk menjangkau 82,9 juta penerima manfaat, terdapat kompleksitas operasional yang secara langsung bersinggungan dengan ekosistem ekonomi mikro yang telah lama eksis di sekolah-sekolah, yakni kantin sekolah dan pedagang kaki lima (PKL).
Baca Juga:Kelompok True Crime Community Tumbuh Organik dan Sporadis Tanpa Tokoh SentralTokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan Berencana
Penetapan jadwal distribusi makanan yang sangat spesifik—yakni pukul 08.00 untuk jenjang PAUD hingga Kelas 2 SD, pukul 10.30 untuk Kelas 3 hingga Kelas 6 SD, dan pukul 12.30 untuk jenjang SMP hingga SMA—menciptakan batasan temporal yang ketat bagi dinamika pasar di lingkungan sekolah.
Dampak dari ketidaksesuaian jadwal ini, baik dalam bentuk keterlambatan distribusi maupun benturan waktu dengan jam operasional kantin, telah memicu krisis pendapatan bagi ribuan pedagang kecil yang selama ini menggantungkan hidupnya pada jajan siswa.
Analisis mendalam mengenai bagaimana disrupsi jadwal MBG memengaruhi keberlanjutan usaha mikro, risiko limbah pangan, serta tantangan integrasi kebijakan yang inklusif bagi seluruh aktor ekonomi di ekosistem pendidikan.
Arsitektur Temporal dan Logistik Program Makan Bergizi Gratis
Ketepatan waktu dalam distribusi Makan Bergizi Gratis bukan sekadar masalah teknis, melainkan determinan utama dalam pemenuhan fungsi nutrisi bagi perkembangan kognitif siswa. Otak anak sekolah, meski hanya mencakup sekitar 2% dari berat badan, mengonsumsi sekitar 20% dari total energi tubuh, sehingga asupan glukosa yang stabil melalui karbohidrat kompleks sangat krusial untuk menjaga fokus dan daya tangkap di kelas.
Oleh karena itu, Badan Gizi Nasional (BGN) telah merancang skema waktu yang disesuaikan dengan ritme metabolisme dan jadwal kegiatan belajar mengajar (KBM) di setiap jenjang pendidikan.
Matriks Jadwal Operasional MBG Berdasarkan Jenjang Pendidikan
