Meski Dikawal Angkatan Laut Rusia, Amerika Serikat Sita Kapal Tanker Minyak di Perairan Atlantik Utara

Kapal Penjaga Pantai Amerika Serikat mencegat kapal tanker berbendera Rusia \'Marinera\' yang terkait dengan Ven
Kapal Penjaga Pantai Amerika Serikat mencegat kapal tanker berbendera Rusia \'Marinera\' yang terkait dengan Venezuela, setelah pengejaran yang panjang.( Foto oleh US SOUTHERN COMMAND / AFP)
0 Komentar

AMERIKA Serikat (AS) menyita sebuah kapal tanker minyak terkait Rusia di perairan Atlantik Utara. Kapal tanker itu dikejar dari lepas pantai Venezuela hingga ke Atlantik Utara, dalam operasi militer Washington yang dikecam oleh Moskow.

Otoritas AS dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency, Kamis (8/1/2026), menyebut kapal tanker tersebut merupakan bagian dari armada bayangan yang mengangkut minyak untuk negara-negara seperti Venezuela, Rusia, dan Iran, dalam praktik yang melanggar sanksi-sanksi AS.

Kapal tanker tersebut disita oleh AS meskipun berlayar dengan dikawal oleh Angkatan Laut Rusia.

Baca Juga:Kelompok True Crime Community Tumbuh Organik dan Sporadis Tanpa Tokoh SentralTokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan Berencana

Kapal itu sebelumnya berhasil menggagalkan upaya pasukan Washington untuk menaikinya pada Desember tahun lalu, di perairan dekat Venezuela, yang presidennya, Nicolas Maduro — sekutu dekat Moskow, telah digulingkan dan ditangkap oleh AS dalam operasi pada 3 Januari.

“Kapal itu disita di Atlantik Utara berdasarkan surat perintah yang dirilis oleh pengadilan federal AS,” kata Komando Eropa AS dalam pernyataan via media sosial X.

Penyitaan itu disebut sebagai hasil koordinasi antara Departemen Kehakiman AS, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS, dan Departemen Pertahanan. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menegaskan bahwa blokade AS terhadap minyak Venezuela berlaku sepenuhnya “di mana pun di dunia ini”.

“Blokade terhadap minyak Venezuela yang dikenai sanksi dan ilegal tetap berlaku sepenuhnya — di mana pun di dunia,” tegas Hegseth dalam pernyataannya.

Disebutkan dalam pernyataan Pentagon bahwa operasi tersebut merupakan bagian dari upaya Presiden AS Donald Trump untuk menargetkan kapal-kapal yang “mengancam keamanan dan stabilitas Belahan Bumi Barat”.

Kementerian Transportasi Rusia mengkritik penyitaan oleh AS tersebut, dengan menegaskan bahwa “kebebasan navigasi berlaku di perairan laut lepas”.

Sementara Kementerian Luar Negeri Rusia mendesak Washington untuk mengizinkan pemulangan segara para awak kapal yang berkewarganegaraan Rusia.

Baca Juga:Pemprov Jawa Barat Renovasi Gerbang Gedung Sate Berbentuk Candi Anggaran Capai Rp3,9 MiliarKetika Manusia Bertanya dan Mengugat, Jokowi Sudah Menjawabnya

Namun Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa para awak kapal itu akan dibawa ke AS untuk diadili. Leavitt juga mengatakan bahwa AS menganggap kapal tersebut tidak memiliki status kewarganegaraan atau stateless, karena berlayar dengan “bendera palsu”.

0 Komentar