FENOMENA radikalisme yang menyasar anak di bawah umur kini berevolusi kian mengkhawatirkan dengan pola lintas negara. Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap fakta baru terkait penangkapan remaja berusia 14 tahun di Jepara, Jawa Tengah.
Tidak sekadar terpapar ideologi kekerasan, anak tersebut terkonfirmasi memiliki jalur komunikasi langsung dengan kelompok ekstremis internasional yang berbasis di Prancis.
Juru Bicara Densus 88 Polri, Kombes Mayndra Eka, menjelaskan bahwa subjek tidak bergerak sendiri, melainkan terhubung dengan jejaring global melalui platform daring. Koneksi ini terjalin dengan kelompok Berber Nationalist Third-positionist Group (BNTG).
Baca Juga:Kelompok True Crime Community Tumbuh Organik dan Sporadis Tanpa Tokoh SentralTokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan Berencana
“Anak ini memiliki koneksi internasional dan terdeteksi berhubungan dengan REDA, pendiri kelompok BNTG di Prancis. Ini adalah gerakan nasionalisme etnis Barber berbasis daring dengan ideologi Third Positionist,” tegas Mayndra di Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Simulasi Teror di Sekolah
Keterhubungan dengan jaringan luar negeri tersebut memicu keberanian subjek untuk merencanakan aksi nyata. Dalam pengungkapan kasus, Densus 88 memperlihatkan rekaman video di mana remaja tersebut melakukan simulasi penembakan di lingkungan sekolahnya. Tindakan ini dilakukan sebagai “gladi resik” sebelum rencana eksekusi yang sebenarnya.
“Yang bersangkutan melakukan simulasi dulu untuk gambaran ketika melakukan aksi. Bahkan, ia pernah membawa pisau ke sekolah,” ungkap Mayndra. Motif utamanya adalah keinginan menjadi pelopor kekerasan di lingkungan pendidikannya atas nama komunitas True Crime Community (TCC).
Bahaya Laten “Rumah Kedua” Digital
Densus 88 menyoroti pergeseran pola rekrutmen yang memanfaatkan kerentanan psikologis anak. Dari hasil pendalaman sepanjang 2025 hingga awal 2026, ditemukan 27 grup media sosial aktif yang menyebarkan paham ekstremisme, termasuk grup TCC Universe dan Have Sex With Your Gun.
Menurut Mayndra, anak-anak yang berasal dari latar belakang keluarga tidak harmonis (broken home) atau korban perundungan, menjadikan komunitas daring ini sebagai pelarian atau “rumah kedua”.
“Di komunitas ini aspirasi mereka didengarkan, terjadi dialog, dan saling memberikan rekomendasi solusi yang berujung pada kekerasan,” pungkasnya.
Pihak kepolisian mengimbau orang tua untuk lebih waspada terhadap aktivitas digital anak, mengingat pintu masuk radikalisme kini dapat diakses semudah genggaman tangan melalui grup-grup hobi yang menyimpang.
