“Meski pemberontakan ini mencerminkan kekecewaan lama daerah-daerah luar terhadap dominasi Jawa, sasaran utamanya juga tertuju pada Presiden Soekarno, khususnya sikapnya yang mengadopsi gagasan-gagasan komunis serta dukungannya terhadapnya,” tulis CIA dalam arsip rahasia berjudul Indonesian Operation: Original Concept of Operation tertanggal 15 Mei 1958.
Lebih jauh, CIA secara terbuka memandang gejolak di Sulawesi dan Sumatra sebagai instrumen untuk memperkuat kekuatan anti-komunis di Indonesia. Dalam dokumen itu, CIA menegaskan perlunya memaksimalkan potensi tekanan politik dari pulau-pulau luar guna mempengaruhi peta kekuasaan nasional, khususnya di Jawa.
“Memanfaatkan pengaruh atau daya tekan apa pun yang tersedia dan dapat dibangun oleh kekuatan anti-Komunis di pulau-pulau luar untuk melanjutkan upaya kita dalam menyatukan dan mendorong untuk bertindak bersama-sama unsur-unsur non-Komunis dan anti-Komunis di Jawa melawan kaum Komunis,” tulis CIA dalam salah satu poin perintahnya di dokumen yang sama.
Baca Juga:Kelompok True Crime Community Tumbuh Organik dan Sporadis Tanpa Tokoh SentralTokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan Berencana
Keterlibatan AS dalam operasi ini akhirnya terbongkar lewat kasus Allen Pope. Pada 18 Mei 1958, TNI berhasil menembak jatuh sebuah pesawat tempur yang sebelumnya menjatuhkan bom di Ambon, menghancurkan pasar dan sejumlah bangunan strategis. Serangan itu menewaskan enam warga sipil dan 17 prajurit TNI.
Pilot pesawat tersebut selamat. Saat digeledah, terungkap dia adalah warga negara AS bernama Allen Lawrence Pope. Dia bukan pilot sipil biasa, melainkan agen CIA yang tengah menjalankan misi rahasia.
Audrey Kahin dan George Kahin dalam buku Subversi sebagai Politik Luar Negeri: Menyingkap Keterlibatan CIA di Indonesia (1997, hlm 232) mencatat, di saku Pope ditemukan buku catatan misi serta kartu identitas militer Amerika Serikat.
Kabar penangkapan Pope memicu kemarahan Presiden Soekarno. Dalam autobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965), Soekarno secara tegas menyatakan keyakinan Pope adalah agen CIA.
“Aku 99,9% yakin bahwa Pope seorang agen CIA. […] Di setiap negara yang baru berkembang orang akan melihat agen-agen Amerika banyak berkeliaran,” ujar Soekarno.
Hasil penyelidikan mengungkap Pope merupakan veteran militer yang menerbangkan pesawat tempur dari pangkalan AS di dekat Filipina. Dia bukan satu-satunya pilot bayaran CIA yang dikerahkan untuk membantu pemberontakan Permesta, tetapi menjadi satu-satunya yang tertangkap hidup-hidup oleh militer Indonesia.
