Operasi Delta Force di Venezuela Trump Banggakan Kekuatan Militernya, Tapi Hancur di Mogadishu Tahun 1993

Sebuah helikopter Amerika yang rusak di Mogadishu, Somalia, 14 Oktober 1993. (Scott Peterson/Getty Images)
Sebuah helikopter Amerika yang rusak di Mogadishu, Somalia, 14 Oktober 1993. (Scott Peterson/Getty Images)
0 Komentar

Menyadari kru yang selamat tak mungkin bertahan, mereka berulang kali meminta izin untuk turun meski tahu risikonya. Setelah diizinkan, keduanya turun, menarik Durant dari reruntuhan, lalu bertempur melawan ratusan milisi hingga amunisi habis.

Mereka tewas di tempat, tetapi tindakan itu menyelamatkan nyawa Durant yang kemudian ditawan. Atas pengorbanan ini, Shughart dan Gordon dianugerahi Medal of Honor secara anumerta.

Pertempuran berlanjut selama 18 jam tanpa henti. Pasukan AS yang terkepung di sekitar lokasi jatuhnya Super 61 harus bertahan semalaman menghadapi gelombang serangan hingga konvoi penyelamat PBB, terdiri dari tank Pakistan dan APC Malaysia, berhasil menembus blokade pada pagi tanggal 4 Oktober.

Baca Juga:Tokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan BerencanaPemprov Jawa Barat Renovasi Gerbang Gedung Sate Berbentuk Candi Anggaran Capai Rp3,9 Miliar

18 tentara AS tewas di tempat, lebih dari 70 terluka, dan dua helikopter hancur. Di pihak Somalia, korban tewas diperkirakan antara 300 hingga lebih dari 1.000 orang, termasuk banyak warga sipil.

Gambar mayat tentara Amerika yang diseret di jalanan Mogadishu, disiarkan CNNke seluruh dunia, menimbulkan trauma bagai publik dan Pemerintah AS. Reaksi keras ini memaksa Presiden Bill Clinton menarik pasukan dari Somalia, meninggalkan misi PBB dalam kekacauan.

Dampak jangka panjangnya dikenal sebagai Sindrom Mogadishu. Merujuk artikel di Brown Political Review, fenomena ini membuat pembuat kebijakan AS enggan melakukan intervensi militer di luar negeri, terutama dengan pengerahan pasukan darat dalam konflik yang tidak memiliki kepentingan strategis vital.

Sindrom ini mengubah doktrin militer AS menuju penggunaan kekuatan udara, rudal jelajah, dan kemudian drone, untuk meminimalkan risiko fisik bagi personel. Pola ini terlihat jelas dalam serangan udara masif sebelum tim Delta mendarat di Caracas pada 2026.

Secara militer, Mogadishu menjadi studi kasus penting pertempuran kota modern. Kegagalan komunikasi, ketiadaan perlindungan lapis baja yang sempat ditolak Menteri Pertahanan Les Aspin, serta kerentanan helikopter terhadap senjata infanteri sederhana menjadi bahan evaluasi yang mengubah cara AS berperang.

“Aspin khawatir tentang bagaimana pengiriman pasukan lapis baja ini akan dipandang di Capitol Hill dan di ibu kota negara asing,” tulis laporan Kongres ASpada 27 Januari 1994.

Delta Force dan unit khusus lain menghabiskan dekade berikutnya untuk menyempurnakan taktik pertempuran malam demi menghindari kerumunan siang hari, sekaligus meningkatkan teknologi pengawasan. Operasi di Caracas, yang dilakukan tengah malam dengan dukungan pengawasan real-time dari Mar-a-Lago, lahir dari evolusi taktis ini.

0 Komentar