Operasi Delta Force di Venezuela Trump Banggakan Kekuatan Militernya, Tapi Hancur di Mogadishu Tahun 1993

Sebuah helikopter Amerika yang rusak di Mogadishu, Somalia, 14 Oktober 1993. (Scott Peterson/Getty Images)
Sebuah helikopter Amerika yang rusak di Mogadishu, Somalia, 14 Oktober 1993. (Scott Peterson/Getty Images)
0 Komentar

PBB bersama AS meluncurkan misi UNOSOM II untuk mengamankan distribusi bantuan. Namun, misi kemanusiaan itu segera berubah menjadi konflik terbuka dengan Mohamed Farrah Aidid, pemimpin klan Habr Gidr, yang melihat intervensi asing sebagai ancaman bagi kekuasaannya.

Ketegangan memuncak setelah milisi Aidid membunuh 24 penjaga perdamaian asal Pakistan. PBB lalu mengeluarkan mandat penangkapan, dan AS mengirim Task Force Ranger yang terdiri dari gabungan Delta Force, Rangers, dan 160th SOAR, di bawah komando Mayjen William Garrison untuk memburu Aidid dan para letnannya.

Pada 3 Oktober 1993, intelijen AS mendapat informasi bahwa dua target penting sedang berkumpul di sebuah bangunan dekat Hotel Olympic, jantung Pasar Bakaara, wilayah terkuat Aidid. Mereka adalah Omar Salad Elmi, menteri luar negeri kabinet bayangan Aidid, dan Mohamed Hassan Awale, penasihat politik utamanya.

Baca Juga:Tokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan BerencanaPemprov Jawa Barat Renovasi Gerbang Gedung Sate Berbentuk Candi Anggaran Capai Rp3,9 Miliar

Operasi yang dinamakan Gothic Serpent itu merencanakan Delta menyerbu gedung, Rangers mengamankan perimeter, lalu konvoi darat mengevakuasi semua orang. 19 pesawat, 12 kendaraan, dan sekitar 160 tentara dilibatkan. Estimasi waktu kurang dari satu jam.

Fase awal berjalan mulus. Operator Delta berhasil menangkap Salad dan Awale bersama beberapa tahanan lain. Namun, keadaan berubah drastis ketika milisi Somalia, yang sudah mempelajari pola operasi helikopter AS, menembakkan RPG ke rotor ekor Black Hawk.

“Operasi tidak berjalan seperti yang direncanakan. Konvoi darat berlari melawan barikade yang dibentuk oleh milisi lokal,” ujar Mark Bowden, penulis buku Black Hawk Down: A Story of Modern War (2010).

Super 61, helikopter yang dibawa Cliff Wolcott, menjadi korban pertama. Jatuhnya helikopter ini mengubah misi menjadi operasi penyelamatan di tengah kota yang penuh musuh. Pasukan darat yang bergerak ke lokasi jatuhnya Super 61 langsung terjebak dalam penyergapan besar. Situasi semakin buruk ketika Black Hawk kedua, Super 64 yang dikendarai Michael Durant, juga ditembak jatuh di lokasi berbeda.

Di lokasi jatuhnya Super 64, dua penembak jitu Delta Force, Sersan Satu Randy Shughart dan Sersan Master Gary Gordon, yang memantau dari helikopter, melihat kerumunan milisi mendekati bangkai pesawat Michael Durant.

0 Komentar