Para personel militer dan kepolisian Kuba yang tewas ini dilaporkan berusia antara 26 tahun hingga 67 tahun, dengan dua personel di antaranya berpangkat Kolonel dan satu personel lainnya berpangkat Letnan Kolonel.
Trump juga mengatakan sebanyak 152 pesawat dikerahkan dalam operasi itu dan menegaskan tidak ada satu pun warga Amerika Serikat yang tewas.
“Amerika Serikat sekali lagi membuktikan bahwa kita memiliki kekuatan militer paling kuat, paling mematikan, paling canggih, dan paling menakutkan,” kata Trump dilansir CBS News
Baca Juga:Tokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan BerencanaPemprov Jawa Barat Renovasi Gerbang Gedung Sate Berbentuk Candi Anggaran Capai Rp3,9 Miliar
“Ini adalah militer paling menakutkan di planet Bumi, dan tidak ada yang dapat menandinginya. Saya sudah mengatakan ini sejak lama—tidak ada yang bisa mengalahkan kita,” tegasnya
Namun, komunitas internasional, termasuk PBB dan negara tetangga seperti Meksiko, melihatnya sebagai penculikan dan pelanggaran kedaulatan yang mencolok, sekaligus preseden berbahaya dalam hubungan internasional.
Bagi Delta Force, keberhasilan ini menegaskan posisi mereka sebagai instrumen utama kebijakan luar negeri AS yang mampu menjangkau target mana pun, di mana pun, tanpa terhalang batas negara atau benteng militer.
Operasi Tanpa Perlawanan
Delta Force atau 1st Special Forces Operational Detachment-Delta (1st SFOD-D) yang didirikan pada 1977 oleh Kolonel Charlie Beckwith, lahir dari kebutuhan mendesak Amerika Serikat akan unit kontra-terorisme setelah serangkaian serangan global di dekade 1970-an.
Beckwith, yang pernah bertugas bersama Special Air Service (SAS) Inggris, membawa filosofi kualitas di atas kuantitas. Unit ini dibentuk untuk bekerja dalam tim kecil, mandiri, dan sanggup menjalankan misi yang dianggap mustahil secara politik maupun militer.
Kekuatan Delta Force, selain senjata adalah ketahanan mental operatornya. Seleksi yang digelar dua kali setahun di pergunungan Virginia Barat memiliki tingkat kegagalan lebih dari 90 persen. Kandidatnya bukan prajurit biasa, melainkan yang terbaik dari Green Berets dan Rangers. Namun, bahkan bagi mereka, seleksi ini adalah neraka.
Tahap paling menakutkan adalah navigasi darat dan Stress Phase. Kandidat dilarang berkomunikasi, dipaksa berjalan sendirian menempuh 29 hingga 64 kilometer per hari dengan ransel berat.
Baca Juga:Ketika Manusia Bertanya dan Mengugat, Jokowi Sudah MenjawabnyaUsai Aksi Protes Penggerebekan Imigrasi, Los Angeles Rusuh Donald Trump Kirim Ribuan Garda Nasional
Puncaknya adalah The Long Walk, perjalanan 64 kilometer dengan batas waktu yang dirahasiakan. Ketidakpastian menjadi senjata utama instruktur, saat kandidat tidak pernah tahu kapan penderitaan berakhir.
